Latest post

Rumah Tua

`Januari musim penghujan.
Malam itu begitu sepi dan gelap mencekam. Angin yang berhembus begitu dingin melewati kedua telinga mereka. Suasananya tidak seperti yang mereka harapkan.
Irman menatap nanar bangunan tua yang tinggi menjulang di hadapannya. Gerimis rintik hujan tampak jelas terpancar dari sorot kuning lampu jalanan, bangunan itu nampak lebih seram dari sebelumnya. Tanpa terasa ia bergidik.
Di sampingnya, sedang duduk Toni, teman sekelas Irman. Di sekolah ia adalah orang yang cukup ditakuti dan dikenal sebagai anak yang jahil. Demikan pula halnya dengan Irman, sahabatnya. Ia adalah bintang basket pujaan setiap perempuan di sekolahnya.
Itu adalah alasan mengapa mereka tidak boleh mundur.
“Ayo kita masuk” kata Toni dengan ketegangan yang dipaksakan.
“Tunggu Ton, kamu serius mau masuk?” Tanya Toni.
“Ya iyalah, seluruh sekolah sudah bertaruh untuk kita, apa kita berani masuk atau tidak. Apa kamu mau si Jeff yang sombong itu nertawain kita karena tidak berani masuk?”
“Iya deh kalau gitu, ayo kita masuk. Besok, kita buat sekolah gempar dengan keberanian kita. Si Jeff pasti iri melihat kita”
“Nah, gitu dong, bigini aja kok takut”
Kemudian mereka berdua menyebrangi jalan yang sepi, lalu memanjat pagar yang cukup tinggi dengan banyak tumbuhan menjalar menutupi pagar itu.


“Ayo Ton, jalan.” Kata Irman menelan ludah
Mereka berdua saling menunggu satu sama lain. Mereka sangat takut dengan apa yang mereka lakukan. Tapi ego sudah menguasai mereka, langkah kaki mereka terdorong rasa ingin disegani dan ditakuti di sekolahnya. Apalagi rasa kesal mereka pada Jeffri, ia adalah saingan berat Toni dan Irman dalam merebut perhatian teman-teman sekolahnya. Mereka tak pernah berhenti membuat sensasi di sekolah. inilah alasan kenapa Toni dan Irman nekat melakukannya.
Rumah tua itu terletak tepat di samping sekolah Toni dan Irman. Rumah kayu yang mirip gereja itu, berwarna putih, namun sudah kusam di makan usia. Konon katanya, rumah itu pernah dihuni oleh keluarga yang terkenal kaya raya, namun sayang, sang pemilik rumah sangat kikir. Keluarga itu juga tidak pernah bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya, keluarga itu tewas terbunuh oleh perampok dan membawa kabur harta mereka. Sampai sekarang, tidak ada yang berani masuk ke rumah tua itu.
“Ayo Man kita masuk” kata Toni, saat berada di depan rumah tua itu, bersiap-siap membuka pintu. Tapi tiba-tiba mereka tersentak, ketika mendengar suara langkah kaki yang makin lama makin jelas. Tangan mereka bergetar memegang senter didepan perut Irman. Namun, karena ego yang tinggi mereka tidak mau mengucap kata takut. Mereka pun berusaha mencari-cari alasan.
“Hassyin…!” Irman bersin dengan sengaja. Hampir saja Toni terserang penyakit jantung karena kaget.
“Wah…aku kurang enak badan nih Ton,” katanya “Bagaimana kalau masuknya lain kali saja” kata Irman dengan nada pelan.
“Sayang sekali Man, padahal kita sudah sejauh ini. Tapi, karena kamu kurang enak badan, ya tidak apa-apa deh, aku juga kebelit mau kencing” “Bilang aja kalau kamu juga takut” Kata Irman dalam hati.
“Kalau begitu kita pura-pura saja Ton, bilang saja sama teman-teman besok kalau kita sudah masuk, bilang saja kalau kita….”
“Sudah ngomongnya di luar saja aku sudah kebelit nih mau kencing” Potong Toni ketakutan, kemudian berjalan meninggalkan rumah tua itu, Irman menyusul dibelakangnya.
Sesekali Irman menengok kebelakang melihat rumah tua itu, perasaannya sudah sedikt legah. Tiba-tiba samar-samar ia melihat sosok hitam mirip orang yang sedang berdiri menatap mereka berdua dari jendela rumah tua itu. Merinding, ia pun segera mempercepat langkahnya. Spontan Toni mengikutinya. Memanjat pagar dan segera menjauh dari rumah tua itu.
“Nah, besok kita bilang apa sama-sama teman-teman Man.?” Tanya Toni dengan perasaan legah.
“Ya kita bilang saja kalau kita sudah masuk, terus kita bilang kalau di dalam rumah itu sangat menyeramkan, kalau perlu bilang saja bahwa di rumah itu banyak setannya”
“Setan,? Setan apa Man?.” Tanya Toni
“Ya terserah, pocong kek, kuntilanak, wewegombel yang jelas kita buat anak-anak di sekolah kagum dengan keberanian kita.”
Begitulah mereka berdua, terus menelusuri jalan pulang diiringi lantunan karangan cerita menyeramkan yang akan mereka ceriatakan besok di sekolah. Toni dan Irman tertawa meremehkan, ketika mereka membayangkan wajah Jeffri yang irih melihat mereka berdua.
“ Si Jeff pasti tidak bisa bilang apa-apa Ton. Skak match!” Kata Irman.
“Iya Man, aku jadi tidak sabar menunggu besok,” katanya “Man, makan dulu yuk, aku yang traktir” kata Toni ketika mereka berada di depan warung Pak haji Jalal, tempat makan favorit mereka.”
“Makan,? loh, bukannya kamu kebelit mau kencing Ton, kenapa sekarang mau makan?” Tanya Irman menyindir, ia teringat perkataan Toni pada saat di rumah tua tadi.
“A-anu, maksudnya sekalian numpang mau kencing,” Toni panik “sudah ayo masuk” Irman hanya senyum mengekik. Ia sadar betul akan sahabatnya yang satu ini. Toni beraninya di mulut saja tanpa bertindak sama sekali. Pikirnya, tapi tiba-tiba ia malu ketika melihat dirinya sendiri.
Besoknya di sekolah, pagi-pagi sekali Toni dan Irman sudah membuat gempar. Kelas mereka menjadi ramai dengan kerumunan orang-orang. Mereka penasaran ingin mendengar cerita dari Toni dan Irman tentang rumah tua di samping sekolah mereka itu.
“Pokoknya rumah itu menyeramkan banget, banyak sekali suara langkah kaki. Walaupun hanya bermodalkan satu senter dan keberanian kami terus menelusuri rumah tua itu sampai ke sudut-sudutnya.” Kata Toni, dengan lagak kePahlawanannya.
“Tapi tiba-tiba kami berhenti dan berlari ketakutan, ketika kami melihat pocong dan kuntilanak yang bergelantungan di atas atap” sambung Irman tak mau kalah dengan Toni.
“Wah, yang benar Man. Rumah itu ada hantunya,? Aku jadi merinding.” Tanya Feby, salah satu perempuan idola para lelaki di sekolah.
“Iya Feb, di rumah itu banyak sekali hantu yang menyeramkan. Apalagi kuntilanak, matanya merah menyala.” Kata Irman melebih-lebihkan.
“Iiii, aku jadi takut. Emangnya kalin tidak takut apa?. Melihat kuntilanak” Katanya
“Tidak apa-apa kok, lama-lama juga terbiasa”
“Wah…, kalian berdua memang berani.” Irman dan Toni hanya tesenyum legah dan bangga dengan diri mereka sendiri, seakan-akan mereka betul-betul sudah melakukannya.
“Alaaa, pasti kalian bohong,” sergah Jeffri “Mana ada hantu di jaman sekarang, pasti kalian ngarang kan” Irman dan Toni terkesiap.
“Enak saja kamu Jeff, bilang saja kalau kamu iri” Kata Toni mengejek.
“Huuuu….!” Semua orang menyoraki Jeffri.
“Pokoknya saya ngga percaya, saya mau bukti.” Seketika Jeffri merobek selembar kertas bukunya dan mengambil pulpen.
“Mau apa kamu Jeff?” Tanya Irman penasaran, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
“Sudah jangan banyak tanya, ayo ikuti aku kalau berani” tantang Jeffri. Irman dan Toni mulai cemas, dengan bimbang mereka pun mengikuti Jeffri yang berjalan ke rumah tua itu, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
“Nih liat” Jeffri menandatangani selembar kertas, kemudian ia mengambil batu dan membungkusnya dengan kertas itu.
“Mau apa kamu Jeff?” Tanya Toni panik.
Tanpa basa-basi Jeffri melempari jendela rumah tua itu.
“Tringg…brag-brag-kada-brag.” Lemparan Jeffri menembus jendela itu. Hampir saja pecahan kaca mengenai mereka.
“Woihh, apa yang kalian lakukan.” Mereka semua terkesiap, ketika mereka melihat Bapak-bapak meneriaki mereka. Wajahnya kusam, matanya besar dengan kumis dan alis yang tebal. Jeffri dan teman-temannya pun lari terbirit-birit kembali ke sekolah.
“Nah, Irman, Ton kalau kalian memang pernah masuk ke rumah itu, ambil kertas yang tadi aku lempar. Aku berani janji kalau kalian bisa mengambilnya aku akan pakai rok ke sekolah selama seminggu.” Tantang Jeffri. Irman dan Toni hanya mengangguk tanda setuju. Mereka capek lari dari kejaran Bapak-bapak tadi.
“Mampus kita Ton, kita tidak mungkin masuk ke rumah itu. Sialan tuh si Jeffri, pake nantang segala lagi” kesal Irman.
“Kita tidak punya pilihan Man, kita harus masuk ke rumah itu”
“Oke deh Ton, tapi kita masuk nanti sore saja yah”
“Sore?, ngga mungkin Man, sekolah belum sepi kalau sore, lagian kamu mua dikejar-kejar sama Bapak-bapak tadi. Udah, sebentar malam tunggu aku di rumahmu, kita akan membuat si Jeffri sialan itu kapok.
Akhirnya mereka tidak punya pilhan lain selain menyanggupi tantangan Jeffri. Bermodalkan satu buah senter dan nekat, akhirnya mereka menuju rumah tua itu.
“Ayo Ton kita masuk” seperti biasa mereka melewati jalur yang sama. Mereka melakukannya begitu cepat, nampaknya mereka lebih takut dibilang pembohong oleh teman-temannya ketimbang rasa takut dari rumah tua itu. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ketakutan segera menggerogoti pikiran mereka, ketika mereka masuk ke dalam rumah itu. Suasananya persis dengan apa yang mereka ceritakan ke teman-temannya. Sunyi dan gelap. Beberapa lukisan terpajang di dinding rumah, namun sudah tidak jelas. Debu dan sarang laba-laba menutupinya.
“Kita lewat situ” kata Toni sambil mengarahkan senter menuju ruangan berikutnya. Irman hanya terdiam ketakutan.
“Ton kita pulang saja yuk” kata Irman tiba-tiba
“Sembarangan kamu Man, kita sudah sejauh ini, tidak mungkin kita kembali. Kamu takut ya Man.” Toni mengejek
Di luar dugaannya, Irman mengakuinya.
“Ya, aku takut Ton”
Toni berdecak “Kita sudah di sini, sebentar lagi sampai. Ayo kita ambil kertasnya lalu pulang.” Toni meyakinkan Irman.
Akhirnya, Irman menurut. Mungkin dia takut nanti di ejek oleh teman-temannya.
“Andai saja kita tidak besar mulut sama teman-teman, pasti tidak begini jadinya Ton.” Irman menyesali perbuatannya.
Toni tidak mendengarnya. Ambisi untuk mempermalukan Jeffri terus terbayang di benaknya. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan.
Irman terpaksa mengikutinya. Mereka sampai di ruangan yang agaknya luas, di dalamnya terdapat banyak patung-patung berbentuk aneh. Keringat Irman mengucur deras. Ia terus menggandeng lengan Toni erat. Dengan pencahayaan seadanya, mereka terus berjalan menelusuri rumah tua itu. Sampai mereka menemukan sebuah tangga.
“Man, itu tangganya, ayo kita naik kertasnya pasti ada di atas.” Kata Toni yakin
Mereka pun menaiki tangga itu hati-hati. Tangga itu berdecik, tanda sudah rapuh.
“Sebentar lagi kita akan sampai Man, kita akan membuat si Jeffri kapok dia akan memakai rok selama seminggu. Di saat itu kita akan tertawa terbahak-bahak. Kita akan disegani di sekolah. Takkan ada orang yang berani melawan kita” Toni sangat yakin saat itu, dia mencoba menghibur Irman yang sejak tadi ketakutan.
Mereka terkesiap ketika sampai di atas. Ruangan itu kosong dan sangat luas. Dari kejauhan tampak samar-samar cahaya lilin di atas meja, begitu pula dengan kertas yang sudah di tanda tangani oleh Jeffri. Di sebelahnya terdapat sosok mirip orang yang sedang terkelungkup memakai sarung, hanya kakinya yang kelihatan.
“Siapa itu Man?” Tanya Toni penasaran.
“Sudah, aku tidak peduli apa pun dia. Ayo cepat ambil kertasnya lalu pergi dari sini.”
Toni kemudian berjalan dengan hati-hati. Tangannya gemetar, tak kuasa menahan rasa takut. Ia pun mencoba mengambil kertas Jeffri yang sudah di depan mata. Namun, tiba-tiba. `Hap!. Tangan Toni di genggam oleh sosok yang mirip orang tadi. Spontan Toni terpekik kaget. Ia memberontak membebaskan diri, namun anehnya, kedua tangannya kita tak bisa bergerak. Ia baru sadar kedua tangannya dibelenggu oleh sosok itu.
Melihat hal itu Irman ketakutan bukan kepalang. Ia berlari terpontang-panting. Napasnya memburu, peluh bercucuran, debar jantung yang kian menggila.
“Irmannnn!!!” jerit Toni, memanggil Irman
Dengan kesadaran yang tersisa Irman berhasil keluar dari rumah itu. Irman mendengar jeritan Toni memanggilnya. Irman ingin kembali, namun, kaki dan bibirnya gemetar. Ia tak sanggup untuk masuk ke dalam. Kemudian dengan terpaksa, Irman lari sekencang-kencangnya. Tubuhnya tak mampu berbalik, ia terus berlari meninggalkan Toni dan rumah tua itu, yang akhirnya lenyap oleh jarak dan gelapnya malam.



0 komentar:

Copyright © 2013 gudang imajinasi converted by SDR
back to top