Latest post

Potret Kerinduan

Sudah menjadi takdir dan kesyukuran tersendiri bagiku. Terlahir dikeluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Aku diajarkan agar selalu taat kepada yang maha kuasa, Allah SWT. Begitu pula rasa pengabdianku kepada keluargaku. Aku bersyukur semua orang membimbingku kejalan yang benar. Termasuk kakakku, dan pastinya dengan bimbingan kedua orang tuaku pula.
.Satu hal yang kini menjadi pergolakan dihatiku. Hal yang membuat hatiku berbunga-bunga, disertai perasaan takut dan khawatir. Aku bingung, aku harus mengikuti kata hatiku atau ajaran agamaku. Semenjak aku tahu bahwa aku suka pada seseorang. Sementara agamaku mengharamkan yang namanya pacaran.
Sudah hampir tiga bulan, aku dan Kak Deni…uhm…apa yah, kalau dibilang teman bukan, dibilang pacar juga bukan. Jelasnya akhir-akhir ini kami cukup dekat. Aku berharap, apa yang kurasakan sama dengan peraasaan Kak Deni. Aku suka padanya. Aku senang bila ia melirikku. Aku senang saat ia memperhatikan aku. Aku diperlakukan ratu olehnya. Sampai-sampai sempat beredar rumor bahwa Kak Deni suka padaku, tak jarang kudapati perempuan lain menatapku sinis.


Sebenarnya, aku tak suka seperti ini. Aku tak suka bila orang terus membicarakanku. Dilain pihak, entah mengapa aku merasa senang. Laki-laki yang cukup populer di sekolah, tinggi dengan rambut ikalnya. Tentunya menjadi perhatian perempuan di sekolah. Kini beredar rumor bahwa ia suka padaku.
Aku merasa lebih dari perempuan lain saat itu. Ternyata merasa menyukai dan dikagumi itu seperti ini, baru kali ini aku merasakannya. Terkadang, aku merasa ragu. Mungkinkah perasaanku ini sama dengan perasaan perempuan lain bila berada dalam posisiku?. Aku merasa berada diatas awan tapi, sampai disana aku kehilangan kendali tak tahu harus berbuat apa. Aku membutuhkan seseorang untuk membagi semua hal yang menjanggalku.
Namun, masih tetap menjadi perdebatan dihatiku. Apakah perasaan suka yang kualami ini dapat menimbulkan dosa?, atau perasaan ini, sebuah perangkap setan yang ingin menjerumuskanku dalam perbuatan maksiat?. Lantas terpintas dalam pikiranku, Kakak. Kakak adalah orang yang selalu menasihatiku jika aku berbuat salah. Yah kakak pasti tahu jawabannya.
“Kak…Kakak punya pacar yah?.” seketika Kakakku terkesiap, lalu menutup buku yang sering dibacanya setiap sore hari.
“Huss…sembarangan, kamu itu masih kecil. Belum saatnya kamu memikirkan hal-hal yang seperti itu.”
“Kak, Rani kan cuma bertanya, Kakak punya tidak” aku melotot, mirip ikan mas koki yang bodoh. Pipiku merah, namun bukan karena malu, tapi karena Kakak sering mencubit pipiku. Kakak balik melotot padaku, ia menatap mataku tajam. Aku jadi kikuk.
“Oh begitu yah!.”
“Apanya yang begitu Kak.”
“Kakak tahu kok, pasti kamu lagi suka sama seseorang kan.” seketika aku terkesiap. Aliran darahku semakin cepat memburu satu sama lain. Namun perlahan-lahan berkurang, karena aku tahu pasti, Kakak orang yang tepat untuk hal ini. Kakak sering membantuku jika aku punya masalah. Kakak pun tahu betul akan perasaanku.
“Kok, kakak bisa tahu?.”
“Ya iyalah kakak tahu, kakak kan sudah lama jadi kakakmu, jadi kakak tahu semua gelagatmu.” Kakak kembali mencubit pipiku.
“Iya deh…kak, Rani memang lagi suka sama seseorang. Namanya Kak Deni. Di sekolah semua orang membicarakan dia. Katanya sih, Kak Deni suka sama aku Kak. Aku jadi senang. Rani berharap rumor itu benar.”
“Yee… memangnya apa yang menarik darimu?, ingat kamu itu masih sekolah.”
“Aku tahu kok, pasti Kak Deni suka sama Rani, karena Rani cantik Kak.” Kataku yakin.
“Yee.. cantik. Siapa yang pernah bilang kalau kamu cantik?.” nada bicara Kakak terkesan mengejekku.
“Ada kok kak.”
“Siapa coba?.” wajah kakak mendekat ke wajahku
“Mama.”
“ha…ha…ha…!” Kakak tak kuasa Manahan tawanya.
“Kenapa kak?.” tanyaku heran
“Emang benar kok kak, Mama pernah bilang sama Rani kalau cuma Rani yang paling cantik di sekolah Rani, waktu Mama mengambilkan LHBS Rani.” Kakak malah makin kencang menertawaiku.
“Kakak bagaimana sih, bukannya bantuin Rani, malah nertawain, Rani harus bagaimana dong kak?.”
“Ade, ingat pacaran itu dosa, kalau sampai kamu bersentuhan dengan laki-laki itu, maka itu juga termasuk dosa.”
“Rani tidak pernah kok kak, bersentuhan dengan Kak Deni, tapi kalo Rani suka sama Kak Deni, apa itu salah Kak?. Rani bingung Kak, Rani pernah merasa bahwa Rani bukan seperti perempuan lain pada umumnya. Apa Rani salah kak?, atau Rani tidak normal ya kak?.” tanyaku tergesah-gesah.
“Perasaan suka itu tidak salah. Rasa suka sama orang itu hal yang wajar, semua orang pasti pernah merasakannya bukan cuma kamu saja. Cinta itu anugerah dari yang maha kuasa, dan tidak bisa dibendung kedatangannya. Seperti halnya cinta Mama sama kamu anaknya. Jika perasaan itu ditutup-tutupi, malah akan membuat kita terus memikirkannya. Tapi kamu harus ingat, kita masih punya agama yang membatasi kita dalam berhubungan dengan orang lain. Ingat itu baik-baik!.”
“Siap Kak, Rani akan selalu ingat kata-kata Kakak.”
Mendengar kata-kata Kakak aku jadi sedikit legah. Ku kira aku ini aneh, ternyata tidak. Perasaan suka akan dialami setiap orang, begitu juga denganku. Tapi, walaupun begitu, aku harus tetap menjaga batasan- batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis. Kata-kata kakak akan selalu kuingat.
Hubunganku dengan Kak Deni, kini makin akrab. Sering kami berkiriman surat, dengan berpura-pura meminjam buku, atau novel. Memang benar, cara seperti ini sudah kuno dan sudah tak pernah lagi dipakai oleh remaja sekarang. Kak Deni pun sepakat akan hal itu. Namun Kak Deni bisa mengerti aku, ia terus mengikuti kemauanku. Nampaknya dia sadar akan diriku, dia mengerti bahwa perempuan yang ia dekati kini adalah perempuan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Terkadang, memang membosankan terus seperti ini, aku hanya dapat memandang Kak Deni dari kejauhan. Aku pun tak punya keberanian untuk mendekatinya tanpa alasan. Di lain pihak, aku suka seperti ini, aku tidak mau seperti remaja lain pada umumnya. Yang hanya mau bersenang-senang dengan pasangannya. Aku tidak tahu dengan mereka, tapi bagiku itu menggelikan. Walaupun aku dan Kak Deni jarang bertatap muka, tapi aku yakin, Kak Deni akan selalu menyukaiku. Tangan kami tidak saling menggemgam, tapi hati kami akan selalu demikian. Begitulah yang dikatakannya dalam surat yang pernah ia kirimkan padaku. Kak Deni tidak suka perempuan agresif dan gatal, ia suka perempuan yang lugu dan tak banyak tingkah.
Namun aku masih ragu, aku belum pernah membaca atau mendengar perkataan rasa suka Kak Deni kepadaku. Aku ingin ia mengatakannya langsung padaku, agar hilang semua rasa kekhawatiranku. Agar hatiku ini bisa legah. Agar aku tidak merasa cemburu, bila Kak Deni dekat sama perempuan lain. Aku takut ia tergoda.
Adakah orang yang mengerti perasaanku?. Satu-satunya orang yang sering ku ajak bicara hanyalah Kakak.
Satu hal yang membuatku kesal. Aku paling benci, bila Kak Deni dekat sama perempuan lain. Aku kesal, bila perempuan lain menarik-narik tangan Kak Deni hanya untuk mencari perhatiannya. “Dasar centil”. Kesal ku dalam hati. Kalau sudah begini, ingin rasanya kucabik-cabik semua surat dari Kak Deni.
Berteman rasa cemburu dan cemas, kuberanikan diri melangkahkan kaki menemui Kak Deni saat ia sendiri.
“Kak…Kak Deni”
“Eh Rani, ada apa, tidak biasanya” aku terkesiap. Seketika aku berhenti mendadak. Aku tak berani menatap wajahnya, walaupun ia menyambutku dengan ramah. Namun sudah tanggung, aku sudah sejauh ini. Jangan sampai…aku bertingkah bodoh. Gumam ku dalam hati.
“Kak sebenarnya Kak Deni, suka tidak sama Rani?. Rani menunggu kepastian dari Kakak” Kak Deni hanya tersenyum. Perlahan ia duduk dikursi, depan kolam ikan sekolah. Aku merasa bodoh bertindak seperti ini.
Ayo duduk” baru kali ini kudengar Kak Deni menyuruhku duduk. Aku hanya bisa menuruti kemauannya.
“Ran, aku tak menyangka kamu akan menanyakan hal itu. Sebenarnya, walaupun kamu tak bertanya, aku akan tetap mengakui bahwa aku memang suka sama kamu. Aku sangat suka dengan kepribadianmu. Kamu berbeda dengan kebanyakan perempuan lain di sekolah ini, yang terkadang membuatku muak. Lantas bagaimana denganmu sendiri.” Aku terkejut, semua perasaan bercampur di rongga dadaku. Detak jantungku tak beraturan, ini membuatku sesak. Aku bingung mau bagaimana.
“Perasaanku sama dengan Kak Deni.” hanya itu yang dapat ku katakan. Kak Deni terus menatapku. Aku tak menyangkah bakal sejauh ini.
“Ran. Saya mau meminta sesuatu padamu. Permintaan ini akan menjadi pertimbanganku terhadapmu.” “Kak Deni mau membunuhku yah,? apa dia tidak sadar apa, kalau aku ini sedang gerogi berat?.” kataku dalam hati.
“Apa itu kak.” penasaran. Kuberanikan diri melirik Kak Deni. Ia pun meminta perlahan
“Bisa tidak, kamu membuka jilbab kamu. Aku penasaran ingin melihat rambutmu.” Hampir saja aku terpekik karena kaget. Tak kusangka Kak Deni akan bertanya seperti itu. Aku suka sama Kak Deni, namun tak mungkin kupenuhi keinginannya. Kebiasaan yang diajarkan kepadaku semanjak kecil tidak mungkin aku lepas begitu saja. Bayang-bayang Kakak dan Ibu terus menghiasi pikiranku. Aku berat memenuhi permintaan Kak Deni.
“Maaf kak. Rani tidak bisa.” aku segera beranjak pergi. Air mataku tak dapat kubendung lagi. Sempat kuberpaling menatap Kak Deni, tapi ia hanya terus duduk memandangku tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya?.
Hal itulah yang membuatku kini terbaring lemas di rumahku. Aku sangat terpukul dengan kejadian itu. Sampai-sampai sudah dua hari aku tidak masuk sekolah. aku juga tidak berani menceritakan hal ini sama Kakak. Aku hanya ingin sendiri.
“Ran, Rani…” suara Kakak memanggilku dari balik pintu.
“Iya Kak, masuk saja.” Kakak membuka pintu, dan berjalan ke arahku.
“Kamu sudah baikan?, ini ada surat untukmu. Mungkin, dari teman sekolahmu, lekas sembuh ya de`!.” Aku tak menyangka ada orang yang mengirim surat untukku. Sepengetahuanku hanya satu orang yang sering mengirim surat.
Kubuka lalu kubaca surat itu perlahan. Ternyata, benar dugaanku surat ini dari Kak Deni.
Untuk yang ku rindukan
Di tempat,
Terima kasih Rani, kamu adalah orangnya. Kamulah perempuan yang selama ini kucari. Maafkan aku bila permintaanku membuatmu sedih dan kini kau terbaring sakit. Aku senang kamu tidak menuruti keinginanku. Aku semakin yakin bahwa kau berbeda dengan kebanyakan perempuan lain. Mereka hanya memakai jilbab karena tuntutan saja. Tapi tidak denganmu. Kau berbeda dengan yang lain.
Ran aku merindukanmu. Aku tak sabar melihatmu tersenyum lagi padaku. Sekali lagi, maaf kalau aku terlalu memberatkanmu. Sebagai gantinya, kamu boleh meminta apa saja dariku. Walaupun itu berat, tapi akan kulakukan apapun untukmu. Lekas sembuh ya Ran.

Yang merindukanmu
Deni.

Aku tak tahu dan harus mengespresikan hal ini bagaimana. Aku sangat senang. Saking senangnya, surat Kak Deni sobek karena terlalu kencang kupeluk. Aku tak sabar menunggu besok. Aku sangat semangat dan gembira. Yang bisa kuperbuat hanya mempertahankan prinsipku. Menjadi diriku sendiri. Tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku siap ke sekolah besok. Aku akan membalas Kak Deni. Aku juga akan meminta sesuatu padanya.
“Uhmm…” senyumku kegirangan.

Potret Kerinduan

Sudah menjadi takdir dan kesyukuran tersendiri bagiku. Terlahir dikeluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Aku diajarkan agar selalu taat kepada yang maha kuasa, Allah SWT. Begitu pula rasa pengabdianku kepada keluargaku. Aku bersyukur semua orang membimbingku kejalan yang benar. Termasuk kakakku, dan pastinya dengan bimbingan kedua orang tuaku pula.
.Satu hal yang kini menjadi pergolakan dihatiku. Hal yang membuat hatiku berbunga-bunga, disertai perasaan takut dan khawatir. Aku bingung, aku harus mengikuti kata hatiku atau ajaran agamaku. Semenjak aku tahu bahwa aku suka pada seseorang. Sementara agamaku mengharamkan yang namanya pacaran.
Sudah hampir tiga bulan, aku dan Kak Deni…uhm…apa yah, kalau dibilang teman bukan, dibilang pacar juga bukan. Jelasnya akhir-akhir ini kami cukup dekat. Aku berharap, apa yang kurasakan sama dengan peraasaan Kak Deni. Aku suka padanya. Aku senang bila ia melirikku. Aku senang saat ia memperhatikan aku. Aku diperlakukan ratu olehnya. Sampai-sampai sempat beredar rumor bahwa Kak Deni suka padaku, tak jarang kudapati perempuan lain menatapku sinis.


Sebenarnya, aku tak suka seperti ini. Aku tak suka bila orang terus membicarakanku. Dilain pihak, entah mengapa aku merasa senang. Laki-laki yang cukup populer di sekolah, tinggi dengan rambut ikalnya. Tentunya menjadi perhatian perempuan di sekolah. Kini beredar rumor bahwa ia suka padaku.
Aku merasa lebih dari perempuan lain saat itu. Ternyata merasa menyukai dan dikagumi itu seperti ini, baru kali ini aku merasakannya. Terkadang, aku merasa ragu. Mungkinkah perasaanku ini sama dengan perasaan perempuan lain bila berada dalam posisiku?. Aku merasa berada diatas awan tapi, sampai disana aku kehilangan kendali tak tahu harus berbuat apa. Aku membutuhkan seseorang untuk membagi semua hal yang menjanggalku.
Namun, masih tetap menjadi perdebatan dihatiku. Apakah perasaan suka yang kualami ini dapat menimbulkan dosa?, atau perasaan ini, sebuah perangkap setan yang ingin menjerumuskanku dalam perbuatan maksiat?. Lantas terpintas dalam pikiranku, Kakak. Kakak adalah orang yang selalu menasihatiku jika aku berbuat salah. Yah kakak pasti tahu jawabannya.
“Kak…Kakak punya pacar yah?.” seketika Kakakku terkesiap, lalu menutup buku yang sering dibacanya setiap sore hari.
“Huss…sembarangan, kamu itu masih kecil. Belum saatnya kamu memikirkan hal-hal yang seperti itu.”
“Kak, Rani kan cuma bertanya, Kakak punya tidak” aku melotot, mirip ikan mas koki yang bodoh. Pipiku merah, namun bukan karena malu, tapi karena Kakak sering mencubit pipiku. Kakak balik melotot padaku, ia menatap mataku tajam. Aku jadi kikuk.
“Oh begitu yah!.”
“Apanya yang begitu Kak.”
“Kakak tahu kok, pasti kamu lagi suka sama seseorang kan.” seketika aku terkesiap. Aliran darahku semakin cepat memburu satu sama lain. Namun perlahan-lahan berkurang, karena aku tahu pasti, Kakak orang yang tepat untuk hal ini. Kakak sering membantuku jika aku punya masalah. Kakak pun tahu betul akan perasaanku.
“Kok, kakak bisa tahu?.”
“Ya iyalah kakak tahu, kakak kan sudah lama jadi kakakmu, jadi kakak tahu semua gelagatmu.” Kakak kembali mencubit pipiku.
“Iya deh…kak, Rani memang lagi suka sama seseorang. Namanya Kak Deni. Di sekolah semua orang membicarakan dia. Katanya sih, Kak Deni suka sama aku Kak. Aku jadi senang. Rani berharap rumor itu benar.”
“Yee… memangnya apa yang menarik darimu?, ingat kamu itu masih sekolah.”
“Aku tahu kok, pasti Kak Deni suka sama Rani, karena Rani cantik Kak.” Kataku yakin.
“Yee.. cantik. Siapa yang pernah bilang kalau kamu cantik?.” nada bicara Kakak terkesan mengejekku.
“Ada kok kak.”
“Siapa coba?.” wajah kakak mendekat ke wajahku
“Mama.”
“ha…ha…ha…!” Kakak tak kuasa Manahan tawanya.
“Kenapa kak?.” tanyaku heran
“Emang benar kok kak, Mama pernah bilang sama Rani kalau cuma Rani yang paling cantik di sekolah Rani, waktu Mama mengambilkan LHBS Rani.” Kakak malah makin kencang menertawaiku.
“Kakak bagaimana sih, bukannya bantuin Rani, malah nertawain, Rani harus bagaimana dong kak?.”
“Ade, ingat pacaran itu dosa, kalau sampai kamu bersentuhan dengan laki-laki itu, maka itu juga termasuk dosa.”
“Rani tidak pernah kok kak, bersentuhan dengan Kak Deni, tapi kalo Rani suka sama Kak Deni, apa itu salah Kak?. Rani bingung Kak, Rani pernah merasa bahwa Rani bukan seperti perempuan lain pada umumnya. Apa Rani salah kak?, atau Rani tidak normal ya kak?.” tanyaku tergesah-gesah.
“Perasaan suka itu tidak salah. Rasa suka sama orang itu hal yang wajar, semua orang pasti pernah merasakannya bukan cuma kamu saja. Cinta itu anugerah dari yang maha kuasa, dan tidak bisa dibendung kedatangannya. Seperti halnya cinta Mama sama kamu anaknya. Jika perasaan itu ditutup-tutupi, malah akan membuat kita terus memikirkannya. Tapi kamu harus ingat, kita masih punya agama yang membatasi kita dalam berhubungan dengan orang lain. Ingat itu baik-baik!.”
“Siap Kak, Rani akan selalu ingat kata-kata Kakak.”
Mendengar kata-kata Kakak aku jadi sedikit legah. Ku kira aku ini aneh, ternyata tidak. Perasaan suka akan dialami setiap orang, begitu juga denganku. Tapi, walaupun begitu, aku harus tetap menjaga batasan- batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis. Kata-kata kakak akan selalu kuingat.
Hubunganku dengan Kak Deni, kini makin akrab. Sering kami berkiriman surat, dengan berpura-pura meminjam buku, atau novel. Memang benar, cara seperti ini sudah kuno dan sudah tak pernah lagi dipakai oleh remaja sekarang. Kak Deni pun sepakat akan hal itu. Namun Kak Deni bisa mengerti aku, ia terus mengikuti kemauanku. Nampaknya dia sadar akan diriku, dia mengerti bahwa perempuan yang ia dekati kini adalah perempuan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Terkadang, memang membosankan terus seperti ini, aku hanya dapat memandang Kak Deni dari kejauhan. Aku pun tak punya keberanian untuk mendekatinya tanpa alasan. Di lain pihak, aku suka seperti ini, aku tidak mau seperti remaja lain pada umumnya. Yang hanya mau bersenang-senang dengan pasangannya. Aku tidak tahu dengan mereka, tapi bagiku itu menggelikan. Walaupun aku dan Kak Deni jarang bertatap muka, tapi aku yakin, Kak Deni akan selalu menyukaiku. Tangan kami tidak saling menggemgam, tapi hati kami akan selalu demikian. Begitulah yang dikatakannya dalam surat yang pernah ia kirimkan padaku. Kak Deni tidak suka perempuan agresif dan gatal, ia suka perempuan yang lugu dan tak banyak tingkah.
Namun aku masih ragu, aku belum pernah membaca atau mendengar perkataan rasa suka Kak Deni kepadaku. Aku ingin ia mengatakannya langsung padaku, agar hilang semua rasa kekhawatiranku. Agar hatiku ini bisa legah. Agar aku tidak merasa cemburu, bila Kak Deni dekat sama perempuan lain. Aku takut ia tergoda.
Adakah orang yang mengerti perasaanku?. Satu-satunya orang yang sering ku ajak bicara hanyalah Kakak.
Satu hal yang membuatku kesal. Aku paling benci, bila Kak Deni dekat sama perempuan lain. Aku kesal, bila perempuan lain menarik-narik tangan Kak Deni hanya untuk mencari perhatiannya. “Dasar centil”. Kesal ku dalam hati. Kalau sudah begini, ingin rasanya kucabik-cabik semua surat dari Kak Deni.
Berteman rasa cemburu dan cemas, kuberanikan diri melangkahkan kaki menemui Kak Deni saat ia sendiri.
“Kak…Kak Deni”
“Eh Rani, ada apa, tidak biasanya” aku terkesiap. Seketika aku berhenti mendadak. Aku tak berani menatap wajahnya, walaupun ia menyambutku dengan ramah. Namun sudah tanggung, aku sudah sejauh ini. Jangan sampai…aku bertingkah bodoh. Gumam ku dalam hati.
“Kak sebenarnya Kak Deni, suka tidak sama Rani?. Rani menunggu kepastian dari Kakak” Kak Deni hanya tersenyum. Perlahan ia duduk dikursi, depan kolam ikan sekolah. Aku merasa bodoh bertindak seperti ini.
Ayo duduk” baru kali ini kudengar Kak Deni menyuruhku duduk. Aku hanya bisa menuruti kemauannya.
“Ran, aku tak menyangka kamu akan menanyakan hal itu. Sebenarnya, walaupun kamu tak bertanya, aku akan tetap mengakui bahwa aku memang suka sama kamu. Aku sangat suka dengan kepribadianmu. Kamu berbeda dengan kebanyakan perempuan lain di sekolah ini, yang terkadang membuatku muak. Lantas bagaimana denganmu sendiri.” Aku terkejut, semua perasaan bercampur di rongga dadaku. Detak jantungku tak beraturan, ini membuatku sesak. Aku bingung mau bagaimana.
“Perasaanku sama dengan Kak Deni.” hanya itu yang dapat ku katakan. Kak Deni terus menatapku. Aku tak menyangkah bakal sejauh ini.
“Ran. Saya mau meminta sesuatu padamu. Permintaan ini akan menjadi pertimbanganku terhadapmu.” “Kak Deni mau membunuhku yah,? apa dia tidak sadar apa, kalau aku ini sedang gerogi berat?.” kataku dalam hati.
“Apa itu kak.” penasaran. Kuberanikan diri melirik Kak Deni. Ia pun meminta perlahan
“Bisa tidak, kamu membuka jilbab kamu. Aku penasaran ingin melihat rambutmu.” Hampir saja aku terpekik karena kaget. Tak kusangka Kak Deni akan bertanya seperti itu. Aku suka sama Kak Deni, namun tak mungkin kupenuhi keinginannya. Kebiasaan yang diajarkan kepadaku semanjak kecil tidak mungkin aku lepas begitu saja. Bayang-bayang Kakak dan Ibu terus menghiasi pikiranku. Aku berat memenuhi permintaan Kak Deni.
“Maaf kak. Rani tidak bisa.” aku segera beranjak pergi. Air mataku tak dapat kubendung lagi. Sempat kuberpaling menatap Kak Deni, tapi ia hanya terus duduk memandangku tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya?.
Hal itulah yang membuatku kini terbaring lemas di rumahku. Aku sangat terpukul dengan kejadian itu. Sampai-sampai sudah dua hari aku tidak masuk sekolah. aku juga tidak berani menceritakan hal ini sama Kakak. Aku hanya ingin sendiri.
“Ran, Rani…” suara Kakak memanggilku dari balik pintu.
“Iya Kak, masuk saja.” Kakak membuka pintu, dan berjalan ke arahku.
“Kamu sudah baikan?, ini ada surat untukmu. Mungkin, dari teman sekolahmu, lekas sembuh ya de`!.” Aku tak menyangka ada orang yang mengirim surat untukku. Sepengetahuanku hanya satu orang yang sering mengirim surat.
Kubuka lalu kubaca surat itu perlahan. Ternyata, benar dugaanku surat ini dari Kak Deni.
Untuk yang ku rindukan
Di tempat,
Terima kasih Rani, kamu adalah orangnya. Kamulah perempuan yang selama ini kucari. Maafkan aku bila permintaanku membuatmu sedih dan kini kau terbaring sakit. Aku senang kamu tidak menuruti keinginanku. Aku semakin yakin bahwa kau berbeda dengan kebanyakan perempuan lain. Mereka hanya memakai jilbab karena tuntutan saja. Tapi tidak denganmu. Kau berbeda dengan yang lain.
Ran aku merindukanmu. Aku tak sabar melihatmu tersenyum lagi padaku. Sekali lagi, maaf kalau aku terlalu memberatkanmu. Sebagai gantinya, kamu boleh meminta apa saja dariku. Walaupun itu berat, tapi akan kulakukan apapun untukmu. Lekas sembuh ya Ran.

Yang merindukanmu
Deni.

Aku tak tahu dan harus mengespresikan hal ini bagaimana. Aku sangat senang. Saking senangnya, surat Kak Deni sobek karena terlalu kencang kupeluk. Aku tak sabar menunggu besok. Aku sangat semangat dan gembira. Yang bisa kuperbuat hanya mempertahankan prinsipku. Menjadi diriku sendiri. Tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku siap ke sekolah besok. Aku akan membalas Kak Deni. Aku juga akan meminta sesuatu padanya.
“Uhmm…” senyumku kegirangan.

Hantuku

Hal yang selalu menghampiri Putri, dimana ia menyambutnya dengan beban di dada. Terasa berat setiap ia melangkahkan kakinya. Memandang lurus menatap pintu gerbang sekolahnya. Pagi waktu itu, Putri menyambutnya dengan suasana berbeda. Semangat , riang tawa Putri menyambut pagi, nampaknya telah direnggut oleh kekhawatiran yang menghampirinya. Ujian akhir nasional bakhantu yang memayungi jati diri Putri.
Setiap pagi di sekolah, diadakan apel, dimana para guru tidak henti-hentinya membahas masalah UAN. Putri makin tertekan dan merasa takut menjalani harinya. Siapa pun pasti bisa tahu beban yang menyelimuti Putri. Perempuan mungil dengan jilbab menutupi rambutnya. Tampak mempesona dan menenangkan hati bila dipandang. Namun itu dulu, keceriannya kini tak lagi dapat menghibur teman-teman Putri yang mengidolakannya.


Bagaimana tidak, setiap orang yang memandang Putri, pasti terseret dalam kesedihan yang Putri alami. Beban terpancar dari sorot matanya. Mengais-ngais simpati orang-orang. Ingin menolong, namun sulit untuk ditembus. Bayang-bayang hitam, seakan-akan jadi pembungkus diri putri. Jauh dari kebebasan.
Putri perempuan malang. Dibenaknya masih jelas terbayang tangisan kakaknya, Rani. Rani adalah korban dari UAN tahun lalu. Kini Rani hanya membantu ibunya bekerja di rumah. Mungkin inilah penyebab mengapa Putri begitu terbebani oleh UAN. Ia merasa terpukul melihat kakaknya, Rani gagal dalam UAN. Putri merasa ia akan gagal seperti Kakaknya.
Putri telah gugur sebelum berperang. Adakah hal yang dapat membuat Putri bangun dari kesengsaraan-nya?. Semua itu adalah permasalahan bagi teman-teman Putri yang simpati padanya. Mereka kasihan dan sedih melihat Putri. Putri bukan seperti yang dulu lagi. Entah mengapa mereka merasa kesepian. Mereka merindukan Putri yang dulu. Intan teman baik Putri. Orang yang selalu menghibur Putri dikala Putri sedih.
Sudah berkali-kali Intan mencoba menghibur Putri dan memberi semangat untuknya, namun tak begitu berhasil.
“Halo salam alaikum.”
“Walaikum salam. Dengan Kak Rani yah.?”
“Iya saya sendiri, ini dengan siapa?.”
“Saya Intan Kak teman Putri.”
“Oh… Intan apa kabar.”
Intan mengutarakan semua hal yang mengjanggal dihatinya. Semua rasa keprihatinan dan simpati Intan terhadap Putri dicurahkan pada Rani. Kakak Putri.
“Kak, Intan sudah tidak tahu lagi mau berbuat apa. Teman-teman yang lain juga bingung dan prihatin melihat Putri. Kami harus bagaimana Kak?.”
“Wah…sampai segitunya yah. Kakak juga heran melihat tingkah laku adik Kakak, tapi terima kasih yah Tan, sudah mau memperhatikan Putri. Biar nanti Kak Rani yang bicara dengannya.”
Semua orang berusaha membantu Putri yang begitu dalam larut dalam kekhawatirannya.
“kring…..”
Bel panjang berbunyi menandakan pelajaran usai saat itu. Keramaian dan kegaduhan para siswa lepas seiring terbangnya rasa penat. Kegaduhan siswa menusuk-nusuk hati Putri. Hari yang panjang dan melelahkan sama sekali tidak mengusik lamunannya.
“Putri,” Teriakan Intan membuat hari itu berbeda.
“Pulang sama-sama yuk.” Putri terkesiap. Dengan tiba-tiba Intan menggandeng tangan Putri menuju tempat dimana mereka menunggu angkot.
“Oh.. iya Put, tugas matematikamu sudah selesai belum?.”
“Iya sudah selesai.” Putri sedikit kikuk
“Wah…hebat kamu Put, boleh pinjam tidak, nanti aku balikin deh. Soalnya saya takut nanti dimarahi sama Pak Hilman gara-gara telat ngumpul tugas. Kamu tahu sendirikan Pak Hilman orangnya bagaimana.” Intan coba menghibur Putri.
“Boleh kok. Tapi saya tidak membawanya hari ini. Mungkin besok baru Putri bawa bukunya.”
“Tidak apa-apa kok. Kan ngumpulnya masih lama. Tapi janji yah Put besok kamu bawa bukunya”
“Iya deh…besok aku bawa kok” Intan senang melihat Putri mau bicara dengannya. Harapan Intan terhadap Putri makin besar. Tak henti-hentinya Intan menawarkan bahan pembicaraan yang hangat disekolahnya belakangan ini. Mulai dari Amril yang sering dihukum karena terlambat masuk sekolah. Paijo yang tercebur di kolam ikan depan ruangan kepala sekolah. Bahkan cowok-cowok yang menjadi idolah para gadis disekolah, tak luput disinggungnya. Semua itu hanya untuk menghibur Putri.
“Oh…iya Put setelah kupikir-pikir, aku mau main ke rumahmu ah. Kan sudah lama kita tidak main sama-sama,” katanya “Lagi pula Intan kangen sama nasi goreng buatan Kakakmu. Yah… boleh yah.”
“Ada-ada aja kamu Tan. Bilang aja kalo kamu lapar.”
“Tapi bolehkan. Intan bosen di rumah, sekali-kali ke rumahmu kan tidak apa-apa.”
“Iya deh, boleh kok. Tapi ingat kamu jangan minta yang macam-macam sama Kak Rani.”
“Iya kok. Intan janji.” Intan nyengir kegirangan
Intan merasa sedikit legah, dengan harapan Putri kembali seperti dulu lagi. Di mata Intan, Putri perempuan yang riang dan centil melebihi dirinya. Intan kembali mengingat saat dimana ia merasa sedih ditinggal ibunya. Hanya Putrilah satu-satunya teman yang selalu memotivasinya. Bahkan hanya Putrilah yang mau menemani Intan di saat orang-orang mengucilkannya. Sungguh tak terbayangkan rasa bersalahnya ia, apabila membiarkan Putri terus larut dalam kekhawatirannya.
“Assalamu alaikum.”
“Walaikum salam. Eh Intan apa kabar. Sudah lama yah ngga kesini, ayo masuk.” sambut Rani, sedikit terkejut melihat Intan
“Iya Kak, Intan kangen sama nasi goreng buatan Kak Rani.”
“Huss… ingat janji kamu Tan.” sambar, Putri berbisik
“Intan Cuma bercanda kok.”
“Kenapa?.” Tanya Rani penasaraan.
“Tidak apa-apa kok Kak.”
“Sudah. Cepat sana ganti baju nanti kakak buatkan nasi goreng.” seketika Putri menarik tangan Intan, pergi meninggalkan Rani.
“Kamu bagaimana sih Tan. Kamu kan sudah janji ngga minta yang macam-macam sama Kak Rani.”
“Maaf deh. Soalnya sudah lama ngga ketemu Kak Rani. Aku jadi terbawa suasana. Eh, buku tugas matematikamu kamu simpan dimana. Daripada nunggu besok mending kerja sekarang.” Intan mengalihkan pembicaraan.
“C-cari saja dimeja.” jawab Putri sedikit ragu
Intan terkejut melihat buku tugas Putri yang kosong. Ternyata Putri belum selesai mengerjakan satu pun tugasnya. Intan makin khawatir dengan keadaan Putri. Intan tak habis pikir, sebenarnya apa yang begitu membuat Putri seperti ini. Bahkan buku-buku pelajaran Putri dibiarkan begitu saja berserakan di atas meja. “Bangun Putri. Bangun” katanya dalam hati.
“Put, kamu belum menyelesaikan satu pun tugasmu.” Intan memperlihatkan buku itu pada Putri. Sekali ini, Intan melihat wajah Putri tampak suram. Teguran Intan bakpetir menyambar di siang bolong. Putri hanya diam dan lesuh. Seketika ia mengambil buku tugasnya dari tangan Intan lalu merapikan buku-bukunya yang berserakan. Ia nampak murung. Kegelapan terlihat dari pandangannya, sangat disayangkan ujian akhir nasional tinggal seminggu lagi. Namum Putri belum sadar juga dari tidur panjangnya. Intan terperanjak lesuh. Hatinya terpukul melihat teman baiknya seperti ini.
“Ada apa denganmu Put. Akhir-akhir ini kau seperti orang lain bagiku. Kamu dulu tak seperti ini. Dimana Put?, dimana kau yang dulu kukenal?. Bukankah kamu sendiri yang mengajariku agar selalu tegar menghadapi cobaan. Kamu juga mengajariku agar tak mudah menyerah. Kamu temanku satu-satunya Put, yang selalu peduli padaku. Put, aku tak bisa melihatmu seperti ini terus.” Putri hanya terus tertunduk rapuh menatap foto di atas mejanya. Matanya bergelinang air mata tak dapat tertahankan lagi. Tubuhnya bergetar tak sanggup menahan beban yang ia alami.
Ia terus dihantui perasaan takut akan hari dan peristiwa itu akan terulang lagi padanya. Masih jelas dalam bayang-bayang kekhawatirannya melihat Kakaknya Rani menangisi nasibnya yang malang. Dan nampaknya hal itu menjadi beban psikis bagi Putri.
Begitu pula dengan Intan, teman baik Putri. Ia tak sanggup melihat putri terus-terusan seperti ini. Sebagai sahabat ia merasa tak berguna dihadapan Putri. Bagi Intan, Putri sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri yang telah menolongnya dari kesedihannya dahulu. Kini Intan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tak berhasil mengembalikan putri seperti dulu.
Cukup lama mereka terdiam. Suasana ruangan kini dingin.
“Tok..tok.tok…”
“Put, Intan buka pintunya, tangan Kakak Cuma dua, pesanan kalian sudah jadi nih. Ayo buka pintunya” Rani memanggil dari balik pintu, tanpa tahu apa yang telah terjadi.
Mereka berdua terkesiap. Intan segera mengusap air mata di kedua pipinya. Seketika ia mengambil tasnya dan berjalan membukakan pintu. Tampak dihadapannya Rani yang bingung melihatnya.
“Loh, kok, Intan…,”
“Maaf kak.” selah Intan kesigukan meninggalkan Rani dan teman baiknya Putri. Rani hanya bisa tabah dan merasa cemas melihat adiknya Putri. Dengan hati-hati, Rani meletakkan makanan di atas kasur Putri, sembari mendekati adiknya.
“Put Kakak tahu permasalahanmu, tapi tidak seharusnya kamu seperti ini. Yang harus kamu lakukan hanyalah bersikap tegar. Tidak sepantasnya apa yang menimpah Kakak, malah membuatmu cemas. Kakak senang seperti ini, takdir kita sudah ditentukan tinggal kamu yang harus mengusahakannya,” Rani menasihati adiknya lembut.
“Apa kamu tidak kasihan melihat Intan, dia sudah susah payah menghiburmu, begitu pula dengan teman-temanmu yang lain.” sudah berkali-kali Putri mengusap air matanya, namun tetap saja terus mengalir.
“Sudah Put, Kakak mengerti perasaanmu.” Rani memeluk adiknya dengan lembut. Tak kuasa, air mata Putri membanjiri pipinya yang sejak tadi tertahankan. Sebagai seorang Kakak, hanya ini yang bisa dilakukan Rani. Ia mencurahkan semua rasa sayangnya pada Putri adiknya. Hanya Putrilah harapan Rani.
Ia berharap Putri lebih baik darinya. Rani sangat merindukan adiknya seperti dulu, ia ingin Putri riang kembali. Ia merindukan tawa Putri yang selalu bisa mengusir rasa lelahnya. Menemaninya dikala ia sedang bosan, Rani juga sangat merindukan celoteh Putri saat ia menceritakan teman-teman sekolahnya. Sejauh ini, Rani hanya bisa berharap dan tak henti-hentinya berdoa agar adiknya yang dulu kembali.
Hari yang dinanti telah tiba. Tiga hari yang sangat menentukan. Putri menjalaninya dengan rasa cemas. Bayang-bayang kegagalan masih terus memayungi diri Putri. Putri kini berjuang sendirian. Intan teman baik Putri hanya bisa berharap Putri mampu menjawab soal dengan benar. Tiap hari Intan tak henti-hentinya memperhatikan Putri. Sebagai seorang sahabat Intan masih peduli pada Putri. Sekali ini saja, Intan sangat ingin menyapah Putri. Melihat Putri mengulum seyum manisnya lagi padanya.
Ia sangat merindukan sifat Putri yang ceria dan lebih centil darinya. Namun sayang, tiap kali Intan mencoba mendekati Putri, Putri terkesan tertutup. Intan dapat melihatnya dari sorot mata Putri yang begitu dingin. Sering Putri memalingkan wajahnya apabila Intan melihatnya. Terkadang, kesal Intan dibuatnya, namun ia tetap sabar dan simpati menghadapi teman baiknya ini.
Intan tak dapat membendung rasa harunya, ketika nomor tes ujian akhir nasionalnya terdapat dalam deretan siswa yang lulus. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Teriakan gembira menambah rasa syukur mereka. “Bagaimana dengan Putri?”, teringat dibenak Intan untuk segera manemuinya. Ia sangat ingin mencurahkan semua rasa rindunya yang telah lama tertahankan.
Intan telah mencari di semua sudut sekolah, namun Intan belum juga menemukan Putri, sampai ia melihat teman baiknya itu tersungkur di lantai dengan mulut penuh busa.

Hantuku

Hal yang selalu menghampiri Putri, dimana ia menyambutnya dengan beban di dada. Terasa berat setiap ia melangkahkan kakinya. Memandang lurus menatap pintu gerbang sekolahnya. Pagi waktu itu, Putri menyambutnya dengan suasana berbeda. Semangat , riang tawa Putri menyambut pagi, nampaknya telah direnggut oleh kekhawatiran yang menghampirinya. Ujian akhir nasional bakhantu yang memayungi jati diri Putri.
Setiap pagi di sekolah, diadakan apel, dimana para guru tidak henti-hentinya membahas masalah UAN. Putri makin tertekan dan merasa takut menjalani harinya. Siapa pun pasti bisa tahu beban yang menyelimuti Putri. Perempuan mungil dengan jilbab menutupi rambutnya. Tampak mempesona dan menenangkan hati bila dipandang. Namun itu dulu, keceriannya kini tak lagi dapat menghibur teman-teman Putri yang mengidolakannya.


Bagaimana tidak, setiap orang yang memandang Putri, pasti terseret dalam kesedihan yang Putri alami. Beban terpancar dari sorot matanya. Mengais-ngais simpati orang-orang. Ingin menolong, namun sulit untuk ditembus. Bayang-bayang hitam, seakan-akan jadi pembungkus diri putri. Jauh dari kebebasan.
Putri perempuan malang. Dibenaknya masih jelas terbayang tangisan kakaknya, Rani. Rani adalah korban dari UAN tahun lalu. Kini Rani hanya membantu ibunya bekerja di rumah. Mungkin inilah penyebab mengapa Putri begitu terbebani oleh UAN. Ia merasa terpukul melihat kakaknya, Rani gagal dalam UAN. Putri merasa ia akan gagal seperti Kakaknya.
Putri telah gugur sebelum berperang. Adakah hal yang dapat membuat Putri bangun dari kesengsaraan-nya?. Semua itu adalah permasalahan bagi teman-teman Putri yang simpati padanya. Mereka kasihan dan sedih melihat Putri. Putri bukan seperti yang dulu lagi. Entah mengapa mereka merasa kesepian. Mereka merindukan Putri yang dulu. Intan teman baik Putri. Orang yang selalu menghibur Putri dikala Putri sedih.
Sudah berkali-kali Intan mencoba menghibur Putri dan memberi semangat untuknya, namun tak begitu berhasil.
“Halo salam alaikum.”
“Walaikum salam. Dengan Kak Rani yah.?”
“Iya saya sendiri, ini dengan siapa?.”
“Saya Intan Kak teman Putri.”
“Oh… Intan apa kabar.”
Intan mengutarakan semua hal yang mengjanggal dihatinya. Semua rasa keprihatinan dan simpati Intan terhadap Putri dicurahkan pada Rani. Kakak Putri.
“Kak, Intan sudah tidak tahu lagi mau berbuat apa. Teman-teman yang lain juga bingung dan prihatin melihat Putri. Kami harus bagaimana Kak?.”
“Wah…sampai segitunya yah. Kakak juga heran melihat tingkah laku adik Kakak, tapi terima kasih yah Tan, sudah mau memperhatikan Putri. Biar nanti Kak Rani yang bicara dengannya.”
Semua orang berusaha membantu Putri yang begitu dalam larut dalam kekhawatirannya.
“kring…..”
Bel panjang berbunyi menandakan pelajaran usai saat itu. Keramaian dan kegaduhan para siswa lepas seiring terbangnya rasa penat. Kegaduhan siswa menusuk-nusuk hati Putri. Hari yang panjang dan melelahkan sama sekali tidak mengusik lamunannya.
“Putri,” Teriakan Intan membuat hari itu berbeda.
“Pulang sama-sama yuk.” Putri terkesiap. Dengan tiba-tiba Intan menggandeng tangan Putri menuju tempat dimana mereka menunggu angkot.
“Oh.. iya Put, tugas matematikamu sudah selesai belum?.”
“Iya sudah selesai.” Putri sedikit kikuk
“Wah…hebat kamu Put, boleh pinjam tidak, nanti aku balikin deh. Soalnya saya takut nanti dimarahi sama Pak Hilman gara-gara telat ngumpul tugas. Kamu tahu sendirikan Pak Hilman orangnya bagaimana.” Intan coba menghibur Putri.
“Boleh kok. Tapi saya tidak membawanya hari ini. Mungkin besok baru Putri bawa bukunya.”
“Tidak apa-apa kok. Kan ngumpulnya masih lama. Tapi janji yah Put besok kamu bawa bukunya”
“Iya deh…besok aku bawa kok” Intan senang melihat Putri mau bicara dengannya. Harapan Intan terhadap Putri makin besar. Tak henti-hentinya Intan menawarkan bahan pembicaraan yang hangat disekolahnya belakangan ini. Mulai dari Amril yang sering dihukum karena terlambat masuk sekolah. Paijo yang tercebur di kolam ikan depan ruangan kepala sekolah. Bahkan cowok-cowok yang menjadi idolah para gadis disekolah, tak luput disinggungnya. Semua itu hanya untuk menghibur Putri.
“Oh…iya Put setelah kupikir-pikir, aku mau main ke rumahmu ah. Kan sudah lama kita tidak main sama-sama,” katanya “Lagi pula Intan kangen sama nasi goreng buatan Kakakmu. Yah… boleh yah.”
“Ada-ada aja kamu Tan. Bilang aja kalo kamu lapar.”
“Tapi bolehkan. Intan bosen di rumah, sekali-kali ke rumahmu kan tidak apa-apa.”
“Iya deh, boleh kok. Tapi ingat kamu jangan minta yang macam-macam sama Kak Rani.”
“Iya kok. Intan janji.” Intan nyengir kegirangan
Intan merasa sedikit legah, dengan harapan Putri kembali seperti dulu lagi. Di mata Intan, Putri perempuan yang riang dan centil melebihi dirinya. Intan kembali mengingat saat dimana ia merasa sedih ditinggal ibunya. Hanya Putrilah satu-satunya teman yang selalu memotivasinya. Bahkan hanya Putrilah yang mau menemani Intan di saat orang-orang mengucilkannya. Sungguh tak terbayangkan rasa bersalahnya ia, apabila membiarkan Putri terus larut dalam kekhawatirannya.
“Assalamu alaikum.”
“Walaikum salam. Eh Intan apa kabar. Sudah lama yah ngga kesini, ayo masuk.” sambut Rani, sedikit terkejut melihat Intan
“Iya Kak, Intan kangen sama nasi goreng buatan Kak Rani.”
“Huss… ingat janji kamu Tan.” sambar, Putri berbisik
“Intan Cuma bercanda kok.”
“Kenapa?.” Tanya Rani penasaraan.
“Tidak apa-apa kok Kak.”
“Sudah. Cepat sana ganti baju nanti kakak buatkan nasi goreng.” seketika Putri menarik tangan Intan, pergi meninggalkan Rani.
“Kamu bagaimana sih Tan. Kamu kan sudah janji ngga minta yang macam-macam sama Kak Rani.”
“Maaf deh. Soalnya sudah lama ngga ketemu Kak Rani. Aku jadi terbawa suasana. Eh, buku tugas matematikamu kamu simpan dimana. Daripada nunggu besok mending kerja sekarang.” Intan mengalihkan pembicaraan.
“C-cari saja dimeja.” jawab Putri sedikit ragu
Intan terkejut melihat buku tugas Putri yang kosong. Ternyata Putri belum selesai mengerjakan satu pun tugasnya. Intan makin khawatir dengan keadaan Putri. Intan tak habis pikir, sebenarnya apa yang begitu membuat Putri seperti ini. Bahkan buku-buku pelajaran Putri dibiarkan begitu saja berserakan di atas meja. “Bangun Putri. Bangun” katanya dalam hati.
“Put, kamu belum menyelesaikan satu pun tugasmu.” Intan memperlihatkan buku itu pada Putri. Sekali ini, Intan melihat wajah Putri tampak suram. Teguran Intan bakpetir menyambar di siang bolong. Putri hanya diam dan lesuh. Seketika ia mengambil buku tugasnya dari tangan Intan lalu merapikan buku-bukunya yang berserakan. Ia nampak murung. Kegelapan terlihat dari pandangannya, sangat disayangkan ujian akhir nasional tinggal seminggu lagi. Namum Putri belum sadar juga dari tidur panjangnya. Intan terperanjak lesuh. Hatinya terpukul melihat teman baiknya seperti ini.
“Ada apa denganmu Put. Akhir-akhir ini kau seperti orang lain bagiku. Kamu dulu tak seperti ini. Dimana Put?, dimana kau yang dulu kukenal?. Bukankah kamu sendiri yang mengajariku agar selalu tegar menghadapi cobaan. Kamu juga mengajariku agar tak mudah menyerah. Kamu temanku satu-satunya Put, yang selalu peduli padaku. Put, aku tak bisa melihatmu seperti ini terus.” Putri hanya terus tertunduk rapuh menatap foto di atas mejanya. Matanya bergelinang air mata tak dapat tertahankan lagi. Tubuhnya bergetar tak sanggup menahan beban yang ia alami.
Ia terus dihantui perasaan takut akan hari dan peristiwa itu akan terulang lagi padanya. Masih jelas dalam bayang-bayang kekhawatirannya melihat Kakaknya Rani menangisi nasibnya yang malang. Dan nampaknya hal itu menjadi beban psikis bagi Putri.
Begitu pula dengan Intan, teman baik Putri. Ia tak sanggup melihat putri terus-terusan seperti ini. Sebagai sahabat ia merasa tak berguna dihadapan Putri. Bagi Intan, Putri sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri yang telah menolongnya dari kesedihannya dahulu. Kini Intan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tak berhasil mengembalikan putri seperti dulu.
Cukup lama mereka terdiam. Suasana ruangan kini dingin.
“Tok..tok.tok…”
“Put, Intan buka pintunya, tangan Kakak Cuma dua, pesanan kalian sudah jadi nih. Ayo buka pintunya” Rani memanggil dari balik pintu, tanpa tahu apa yang telah terjadi.
Mereka berdua terkesiap. Intan segera mengusap air mata di kedua pipinya. Seketika ia mengambil tasnya dan berjalan membukakan pintu. Tampak dihadapannya Rani yang bingung melihatnya.
“Loh, kok, Intan…,”
“Maaf kak.” selah Intan kesigukan meninggalkan Rani dan teman baiknya Putri. Rani hanya bisa tabah dan merasa cemas melihat adiknya Putri. Dengan hati-hati, Rani meletakkan makanan di atas kasur Putri, sembari mendekati adiknya.
“Put Kakak tahu permasalahanmu, tapi tidak seharusnya kamu seperti ini. Yang harus kamu lakukan hanyalah bersikap tegar. Tidak sepantasnya apa yang menimpah Kakak, malah membuatmu cemas. Kakak senang seperti ini, takdir kita sudah ditentukan tinggal kamu yang harus mengusahakannya,” Rani menasihati adiknya lembut.
“Apa kamu tidak kasihan melihat Intan, dia sudah susah payah menghiburmu, begitu pula dengan teman-temanmu yang lain.” sudah berkali-kali Putri mengusap air matanya, namun tetap saja terus mengalir.
“Sudah Put, Kakak mengerti perasaanmu.” Rani memeluk adiknya dengan lembut. Tak kuasa, air mata Putri membanjiri pipinya yang sejak tadi tertahankan. Sebagai seorang Kakak, hanya ini yang bisa dilakukan Rani. Ia mencurahkan semua rasa sayangnya pada Putri adiknya. Hanya Putrilah harapan Rani.
Ia berharap Putri lebih baik darinya. Rani sangat merindukan adiknya seperti dulu, ia ingin Putri riang kembali. Ia merindukan tawa Putri yang selalu bisa mengusir rasa lelahnya. Menemaninya dikala ia sedang bosan, Rani juga sangat merindukan celoteh Putri saat ia menceritakan teman-teman sekolahnya. Sejauh ini, Rani hanya bisa berharap dan tak henti-hentinya berdoa agar adiknya yang dulu kembali.
Hari yang dinanti telah tiba. Tiga hari yang sangat menentukan. Putri menjalaninya dengan rasa cemas. Bayang-bayang kegagalan masih terus memayungi diri Putri. Putri kini berjuang sendirian. Intan teman baik Putri hanya bisa berharap Putri mampu menjawab soal dengan benar. Tiap hari Intan tak henti-hentinya memperhatikan Putri. Sebagai seorang sahabat Intan masih peduli pada Putri. Sekali ini saja, Intan sangat ingin menyapah Putri. Melihat Putri mengulum seyum manisnya lagi padanya.
Ia sangat merindukan sifat Putri yang ceria dan lebih centil darinya. Namun sayang, tiap kali Intan mencoba mendekati Putri, Putri terkesan tertutup. Intan dapat melihatnya dari sorot mata Putri yang begitu dingin. Sering Putri memalingkan wajahnya apabila Intan melihatnya. Terkadang, kesal Intan dibuatnya, namun ia tetap sabar dan simpati menghadapi teman baiknya ini.
Intan tak dapat membendung rasa harunya, ketika nomor tes ujian akhir nasionalnya terdapat dalam deretan siswa yang lulus. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Teriakan gembira menambah rasa syukur mereka. “Bagaimana dengan Putri?”, teringat dibenak Intan untuk segera manemuinya. Ia sangat ingin mencurahkan semua rasa rindunya yang telah lama tertahankan.
Intan telah mencari di semua sudut sekolah, namun Intan belum juga menemukan Putri, sampai ia melihat teman baiknya itu tersungkur di lantai dengan mulut penuh busa.

Rosyati

Begitulah, berangsur-angsur gemuruh tepuk tangan mereda pula. Yuli menghembuskan nafasnya keras-keras, lalu ikut duduk di samping Rosyati. Ia pun mengambil kaleng minumannya, dan membukanya hati-hati, meneguknya pelan penuh kenikmatan.
“Bagus ya Ros, pertunjukan dramanya?”
“Apanya yang bagus, dramanya jelek,” protes Rosyati dengan nada keras. “Ekting orang itu jelek,” katanya sambil menunjuk-nunjuk.
“Ngga bagus. Kamu gimana sih Yul, beli tiket mahal-mahal cuma nonton ginian, mending uangnya di pakai nonton dangdutan.”
Sekonyong-konyong Yuli tersedak, mirip orang mau muntah. Yuli menutup mukanya dengan jaket, tak sanggup menahan malu melihat semua pandangan orang menuju pada Rosyati yang duduk disebelahnya.
“Kamu kenapa sih Yul, dari tadi nunduk mulu, kamu sakit ya?” tanya Rosyati dengan muka tak bersalahnya. Yuli menghembuskan nafasnya kencang, “dasar orang kampung” katanya dalam hati.
“Ros, Ros, kenapa sih kamu tadi bilang begitu,? Kamu tahu ngga semua orang-orang pada liatin kamu, aku jadi malas didekatmu”
“Maksud kamu yang mana Yul, aku ngga ngerti” masih dengan muka tak bersalahnya. Yuli makin gerang.


“Yang tadi Ros waktu di aula, kenapa sih kamu mengomentari dramanya, pake nunjuk-nunjuk segala, aku kan jadi malu.”
“Loh emangnya kenapa, ektingnya emang jelek kok, dia tidak pantas mendapatkan tepuk tangan semeriah itu”
“Kamu tahu ngga Ros, orang yang kamu tunjuk itu anaknya Pak Kepala sekolah, yang tadi duduk dua baris di depan kita.” Katanya kesal.
“Begitu ya, tapi biarlah kenyataannya memang begitu kok” kata Ros dengan santainya, sambil meneguk minuman pemberian Yuli.
Tak urung, tingkah Ros membuat Yuli kesal. Terkadang, timbul dibenaknya untuk meninggalkan Rosyati sendiri. Tapi semuanya lumer, begitu ia mengingat sepupunya ini adalah orang dari kampung. Apalagi setelah Rosyati kehilangan kedua orang tuanya, sejak saat itulah Rosyati tinggal di rumahnya. Yuli pun sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.
Tapi tidak untuk Yani, saudara kembar Yuli. Yani sangat tidak suka dengan tingkah Ros yang cerewet dan sering bicara blak-blakan. Bila ada kesempatan, Yani selalu menjauh dari Rosyati. Walaupun mereka berdua tidak dapat dibedakan dari wajahnya, tapi sikap dan perilaku mereka sungguh jauh berbeda.
“Oh iya Yul, anak Kepala sekolah yang tadi, namanya siapa ya?” Tanya Rosyati, membuyarkan lamunan Yuli.
“Tumben kamu nanya, namanya Leliana, kamu naksir ya sama dia?”
“Sembarangan, masa jeruk makan jeruk, Ros tidak suka dengan gayanya, dia kelihatannya sombong.”
“Itu kan cuma pikiran kamu saja Ros, bilang saja kalau kamu iri”
“Apa!, irih, ngga bakal, kalau cuma main drama sih gampang”
“Memang kamu bisa?” tantang Yuli.
“Y-ya bisalah, bahkan kalau perlu Ros bisa kok jadi pemain sekaligus sutradaranya”
“Oke-oke, tapi kamu cuma beraninya di mulut saja, iya kan?.”
“Apa katamu,” sergah Rosyati, “aku?, Cuma di mulut saja? Yang benar saja…”
“Kalau begitu buktikan!” tantang Yuli.
“Oke, tidak masalah, Ros bisa kok.”
Rosyati sedikit ragu, tapi ego telah menguasainya. Perempuan itu langsung berdiri tegak dan berjanji.
“Baiklah Yul, dengan ini Ros sudah membulatkan tekad, saya akan menjadi seorang sutradara sekaligus pemain yang jago ekting,” katanya “Saya akan menjadi artis ternama dan mendapatkan banyak pujian, sebagai langkah awal, saya akan membentuk tim dramaku sendiri”
“Yakin sekali kamu Ros, memangnya ada orang yang mau ikut denganmu” Yuli terkesan mengejek.
“Itu bukan masalah, saya akan mengajak anak-anak yang sering main di depan rumah untuk bergabung, dan juga kamu Yul”
“Hah..! aku? Ngga ah. Saya ada urusan yang lebih penting. Lagipula cerita apa yang akan kamu dramakan?” Yuli mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya ya, Ros belum kepikiran, menurut kamu bagusnya apa Yul?”
“Malin kundang aja Ros” jawab Yuli santai.
“Malin kundang?, ngga ah, masak ceritanya sama dengan anaknya Pak Kepala sekolah. cari yang lain deh, yang lebih cocok dengan Ros.”
“Aku tahu kok cerita yang cocok untukmu”
“Apa?” Tanya Rosyati penasaran
“Drama nenek sihir, itu lebih cocok untukmu Ros. Ha..ha..ha..”
Tawa yuli mengejek
“Sembarangan, masak saya disamain sama nenek sihir”
“Sudah Ros, ngga usah ditawar-tawar lagi, peran nenek sihir sudah cocok untukmu”
Rosyati tidak memperdulikan ucapan sepupunya. Ia terus berpikir peran apa yang cocok untuknya. Seketika, ia melihat mobil truk berlalu di depan matanya. Sebuah mobil truk berwarna putih dengan gambar sepasang pengantin yang sedang menari di sebuah istana megah.
“Ha…! Ros tahu, peran apa yang cocok untukku”
“Apa?” Tanya Yuli
“Cinderela, saya akan jadi cinderelanya,” katanya yakin, Yuli hanya tersenyum meremehkan. “Paling-paling besok sudah lupa” gumamnya dalam hati.
Di mata Yuli, Rosyati orangnya plin-plan, dia selalu tidak yakin dengan yang dilakukannya. Dia juga sering mengkhayal akan hal-hal besar, namun tak pernah kesampaian. Tapi, Yuli paham benar apa yang terjadi. Mungkin diluar sana masih banyak orang seperti Rosyati. Orang-orang yang tak seberuntung Yuli dan Yani dengan kehidupannya yang mapan.
“Nah untuk tempat latihan dramanya di kamar kamu saja ya Yul” kata Rosyati, membuyarkan lamunan Yuli.
“A-apa, kamarku?” Yuli terkesiap
“Iya, kamarmu kan luas jadi cocok untuk latihan drama”
“Aduh…bagaimana ya,” Yuli kebingungan. “Oh, bagaimana kalau di kamarnya Bi Ipah saja”
“Di kamar Bi Ipah”, ngga ah Yul, masak latihan drama di kamar pembantu sih. Lagian, kamar Bi Ipah kan kecil mana muat. Ayo dong Yul, di kamar kamu saja, sekali ini saja, Ros minta tolong.” Rosyati melotot, mirip anak kecil meminta dibelikan permen oleh ibunya. Tak kuasa Yuli melihat sepupunya yang malang ini.
“Iya deh Ros, boleh, tapi sehari saja yah” Yuli menjawab lesuh
“Nah, gitu dong, terima kasih ya Yul,” Rosyati sangat senang.
“Eh, tapi bagaimana dengan Yani, dia kan orangnya resek, dia tidak bisa lihat orang lain senang. Beda banget dengan kamu Yul, kamu orangnya baik”
“Iya deh, nanti Yuli yang urus”
“Nah..gitu dong, begitukan lebih baik.” Nyengir Rosyati kegirangan.
Sekali ini saja, Yuli melihat Rosyati begitu senang. Di balik penyesalannya sudah menantang Rosyati untuk main drama, ia merasa senang. Entah mengapa hatinya legah bisa membantu Rosyati. Yuli mengerti betul akan sepupunya yang satu ini. Ia berpikir mungkin inilah saatnya untuk memberikan kesempatan pada Rosyati. Memberikannya kebebasan di rumahnya, agar ia merasa senang.
Malamnya, saat semua keluarga berkumpul, asyik nonton sinetron kesukaan Ibunya, kecuali Rosyati ia tak suka menonton sinetron. Yuli mengutarakan semua keinginan Rosyati
“Agar ia merdeka, dan terbebas dari rasa mindernya selama ini. Kasihan kan, biarkanlah dia sekali ini saja mengecap kebebasan di rumah.” Katanya kepada Yani dan Ayah, Ibunya.
Ayah dan Ibunya tersenyum mengangguk setuju. Malah Ibunya menyuruh semua pembantunya agar melayani Rosyati dengan baik nantinya. Hanya Yani yang cemberut tanda semua keluarganya setuju denganYuli.
Kemudian pada hari yang ditentukan, Yuli memanggil semua anak-anak yang sering bermain di depan rumah. Ia menyerahkan semuanya pada Rosyati. Ia pun dan keluarganya sengaja meninggalkan Rumah.
“Nah, Ros sekarang kamu bebas, terserah mau ngapain, lakukan sesukamu, saya mau pergi dulu sebentar.”
“Oke Yul, Ros akan memainkan peran cinderela dengan baik, dan kelak saya akan menjadi artis yang punya banyak penggemar.” Kata Rosyati sambil nyengir dengan ceria.
Lima jam berlalu, tepatnya kini sudah pukul 5 sore hari. Diam-diam Yuli mengintip dari pintu kamarnya. Tampak dua orang anak kecil dengan baju kebesaran tertidur di lantai. Satu lagi di kasur. Yang ini agaknya Rosyati. Yuli jadi penasaran. Pelan-pelan ia buka pintu kamarnya, ia hampir saja terpekik karena kaget. Kamarnya sudah jadi demikian berantakan. Sementara Rosyati dan teman-temannya terus tertidur pulas.
Yuli berteriak dalam hati. Menyesal ia dibuatnya. Tetapi kemudian ia menyabar-nyabarkan dirinya. Ia sadar akan resiko dari keputusan yang ia ambil. Kini ia harus berani menanggungnya. Tanpa membangunkan Rosyati, dengan hati-hati ia membersihkan kamarnya. Hatinya menangis-nangis, tidak biasanya Yuli mengerjakan yang seperti ini. Apalagi ketika ia melihat boneka beruang kesayangannya, penuh kotoran mentega kue yang berserakan di meja belajarnya.
Yuli tidak bisa berkata apa-apa, ia terus membersihkan kamarnya. Anehnya, Rosyati dan teman-temannya tak bangun juga. Akhirnya kemarahan Yuli bangkit. Dengan sengaja ia menendang kasur tempat Rosyati tidur. Ajaib, Rosyati tak bangun juga. Yuli makin kesal, kesabarannya habis ketika ia jatuh terpeleset karena lantai yang licin.
“Aduh..!” teriak Yuli kesakitan. Anehnya ini juga tidak membuat Rosyati bangun. Dengan mata terpejam menahan rasa sakit Yuli mendekati Rosyati dan berteriak.
“Rosssssssss!. Bangun!!!”
Rosyati dan kawan-kawannya bangun bersamaan. Tetapi Rosyati bukannnya minta maaf. Ia malah senang melihat Yuli.
“Wah, dari mana saja kamu Yul?, kamu ketinggalan. Ceritanya seru banget. Kamu belum melihat ketika aku memakai gaun. Aku kelihatan cantik sekali, apalagi ketika aku berlari meninggalkan sepatuku…” Rosyati terus berceloteh tanpa henti sampai akhirnya ia capek sendiri.
“Terima kasih ya Yul, terima kasih kamu baik banget.” Kata Rosyati dengan spontan dan tulus.
Yuli yang dasarnya gampang terharu, memandang wajah kegembiraan Rosyati tak tahu mau berbuat apa. Semua kemarahan yang tadinya menggunung, kini lumer seketika.
“Iya deh Ros, sama-sama sekarang ayo bersihkan kamarku” pinta Yuli lesuh.
Malam harinya, ketika Yani pulang keadaan kamar Yuli sudah seperti sedia kala. Yuli tidak bisa membayangkan bila Yani melihat kamarnya bertantakan. Pasti akan terjadi perang dunia ke dua antara Yani dan Rosyati. Mereka berduakan sama-sama keras kepala. Pikirnya. Walaupun makan hati, Yuli senang akhirnya semuanya telah berakhir.
Sebulan kemudian, Yuli melihat Rosyati memakai pakaian olahraga lengkap dengan sepatu Yuli yang ia pinjamkan. Dengan segan Yuli mendekatinya di tengah kerumunan teman sekelasnya yang berpakaian sama dengannya.
“Ros, ngapain kamu pake baju kayak gini?, kayak orang mau perang aja.” Kata Yuli berbisik
“Ngga kok Yul, iseng aja,” Rosyati menjawab dengan santai. “Oh iya Yul boleh ngga aku minta sesuatu sama kamu?.”
“Apa?, kamu mau jalan-jalan lagi. Ngga bosan apa?.”
“Bukan jalan-jalan Yul”
“ Terus kamu mau apa?” Tanya Yuli penasaran.
“Aku mau pinjam pekarangan rumahmu ya, disanakan luas”
“A-apa pekarangan rumah,” Yuli terkesiap. “Memangnya kamu mau ngapain Ros.”
“Aku mau mewujudkan impianku Yul”
“Impian,? Seingatku kamu kan mau jadi Sutradara dan artis terkenal kan. Ngapain mau pake pekarangan rumah segala?. Kamu mau bikin drama peperangan?.” Tanya Yuli tergesa-gesa.
“Sabar dong Yul, ini bukan tentang jadi sutradara atau artis. Kali ini lain lagi.”
“Terus apa?.” Tanya Yuli. Perasaannya tidak enak.
“Aku mau jadi seorang Paskibraka”
“Ha…dasar kamu Ros.” Yuli menghela napas. Ia bingung harus bagaimana lagi dengan Rosyati…

Rosyati

Begitulah, berangsur-angsur gemuruh tepuk tangan mereda pula. Yuli menghembuskan nafasnya keras-keras, lalu ikut duduk di samping Rosyati. Ia pun mengambil kaleng minumannya, dan membukanya hati-hati, meneguknya pelan penuh kenikmatan.
“Bagus ya Ros, pertunjukan dramanya?”
“Apanya yang bagus, dramanya jelek,” protes Rosyati dengan nada keras. “Ekting orang itu jelek,” katanya sambil menunjuk-nunjuk.
“Ngga bagus. Kamu gimana sih Yul, beli tiket mahal-mahal cuma nonton ginian, mending uangnya di pakai nonton dangdutan.”
Sekonyong-konyong Yuli tersedak, mirip orang mau muntah. Yuli menutup mukanya dengan jaket, tak sanggup menahan malu melihat semua pandangan orang menuju pada Rosyati yang duduk disebelahnya.
“Kamu kenapa sih Yul, dari tadi nunduk mulu, kamu sakit ya?” tanya Rosyati dengan muka tak bersalahnya. Yuli menghembuskan nafasnya kencang, “dasar orang kampung” katanya dalam hati.
“Ros, Ros, kenapa sih kamu tadi bilang begitu,? Kamu tahu ngga semua orang-orang pada liatin kamu, aku jadi malas didekatmu”
“Maksud kamu yang mana Yul, aku ngga ngerti” masih dengan muka tak bersalahnya. Yuli makin gerang.


“Yang tadi Ros waktu di aula, kenapa sih kamu mengomentari dramanya, pake nunjuk-nunjuk segala, aku kan jadi malu.”
“Loh emangnya kenapa, ektingnya emang jelek kok, dia tidak pantas mendapatkan tepuk tangan semeriah itu”
“Kamu tahu ngga Ros, orang yang kamu tunjuk itu anaknya Pak Kepala sekolah, yang tadi duduk dua baris di depan kita.” Katanya kesal.
“Begitu ya, tapi biarlah kenyataannya memang begitu kok” kata Ros dengan santainya, sambil meneguk minuman pemberian Yuli.
Tak urung, tingkah Ros membuat Yuli kesal. Terkadang, timbul dibenaknya untuk meninggalkan Rosyati sendiri. Tapi semuanya lumer, begitu ia mengingat sepupunya ini adalah orang dari kampung. Apalagi setelah Rosyati kehilangan kedua orang tuanya, sejak saat itulah Rosyati tinggal di rumahnya. Yuli pun sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri.
Tapi tidak untuk Yani, saudara kembar Yuli. Yani sangat tidak suka dengan tingkah Ros yang cerewet dan sering bicara blak-blakan. Bila ada kesempatan, Yani selalu menjauh dari Rosyati. Walaupun mereka berdua tidak dapat dibedakan dari wajahnya, tapi sikap dan perilaku mereka sungguh jauh berbeda.
“Oh iya Yul, anak Kepala sekolah yang tadi, namanya siapa ya?” Tanya Rosyati, membuyarkan lamunan Yuli.
“Tumben kamu nanya, namanya Leliana, kamu naksir ya sama dia?”
“Sembarangan, masa jeruk makan jeruk, Ros tidak suka dengan gayanya, dia kelihatannya sombong.”
“Itu kan cuma pikiran kamu saja Ros, bilang saja kalau kamu iri”
“Apa!, irih, ngga bakal, kalau cuma main drama sih gampang”
“Memang kamu bisa?” tantang Yuli.
“Y-ya bisalah, bahkan kalau perlu Ros bisa kok jadi pemain sekaligus sutradaranya”
“Oke-oke, tapi kamu cuma beraninya di mulut saja, iya kan?.”
“Apa katamu,” sergah Rosyati, “aku?, Cuma di mulut saja? Yang benar saja…”
“Kalau begitu buktikan!” tantang Yuli.
“Oke, tidak masalah, Ros bisa kok.”
Rosyati sedikit ragu, tapi ego telah menguasainya. Perempuan itu langsung berdiri tegak dan berjanji.
“Baiklah Yul, dengan ini Ros sudah membulatkan tekad, saya akan menjadi seorang sutradara sekaligus pemain yang jago ekting,” katanya “Saya akan menjadi artis ternama dan mendapatkan banyak pujian, sebagai langkah awal, saya akan membentuk tim dramaku sendiri”
“Yakin sekali kamu Ros, memangnya ada orang yang mau ikut denganmu” Yuli terkesan mengejek.
“Itu bukan masalah, saya akan mengajak anak-anak yang sering main di depan rumah untuk bergabung, dan juga kamu Yul”
“Hah..! aku? Ngga ah. Saya ada urusan yang lebih penting. Lagipula cerita apa yang akan kamu dramakan?” Yuli mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya ya, Ros belum kepikiran, menurut kamu bagusnya apa Yul?”
“Malin kundang aja Ros” jawab Yuli santai.
“Malin kundang?, ngga ah, masak ceritanya sama dengan anaknya Pak Kepala sekolah. cari yang lain deh, yang lebih cocok dengan Ros.”
“Aku tahu kok cerita yang cocok untukmu”
“Apa?” Tanya Rosyati penasaran
“Drama nenek sihir, itu lebih cocok untukmu Ros. Ha..ha..ha..”
Tawa yuli mengejek
“Sembarangan, masak saya disamain sama nenek sihir”
“Sudah Ros, ngga usah ditawar-tawar lagi, peran nenek sihir sudah cocok untukmu”
Rosyati tidak memperdulikan ucapan sepupunya. Ia terus berpikir peran apa yang cocok untuknya. Seketika, ia melihat mobil truk berlalu di depan matanya. Sebuah mobil truk berwarna putih dengan gambar sepasang pengantin yang sedang menari di sebuah istana megah.
“Ha…! Ros tahu, peran apa yang cocok untukku”
“Apa?” Tanya Yuli
“Cinderela, saya akan jadi cinderelanya,” katanya yakin, Yuli hanya tersenyum meremehkan. “Paling-paling besok sudah lupa” gumamnya dalam hati.
Di mata Yuli, Rosyati orangnya plin-plan, dia selalu tidak yakin dengan yang dilakukannya. Dia juga sering mengkhayal akan hal-hal besar, namun tak pernah kesampaian. Tapi, Yuli paham benar apa yang terjadi. Mungkin diluar sana masih banyak orang seperti Rosyati. Orang-orang yang tak seberuntung Yuli dan Yani dengan kehidupannya yang mapan.
“Nah untuk tempat latihan dramanya di kamar kamu saja ya Yul” kata Rosyati, membuyarkan lamunan Yuli.
“A-apa, kamarku?” Yuli terkesiap
“Iya, kamarmu kan luas jadi cocok untuk latihan drama”
“Aduh…bagaimana ya,” Yuli kebingungan. “Oh, bagaimana kalau di kamarnya Bi Ipah saja”
“Di kamar Bi Ipah”, ngga ah Yul, masak latihan drama di kamar pembantu sih. Lagian, kamar Bi Ipah kan kecil mana muat. Ayo dong Yul, di kamar kamu saja, sekali ini saja, Ros minta tolong.” Rosyati melotot, mirip anak kecil meminta dibelikan permen oleh ibunya. Tak kuasa Yuli melihat sepupunya yang malang ini.
“Iya deh Ros, boleh, tapi sehari saja yah” Yuli menjawab lesuh
“Nah, gitu dong, terima kasih ya Yul,” Rosyati sangat senang.
“Eh, tapi bagaimana dengan Yani, dia kan orangnya resek, dia tidak bisa lihat orang lain senang. Beda banget dengan kamu Yul, kamu orangnya baik”
“Iya deh, nanti Yuli yang urus”
“Nah..gitu dong, begitukan lebih baik.” Nyengir Rosyati kegirangan.
Sekali ini saja, Yuli melihat Rosyati begitu senang. Di balik penyesalannya sudah menantang Rosyati untuk main drama, ia merasa senang. Entah mengapa hatinya legah bisa membantu Rosyati. Yuli mengerti betul akan sepupunya yang satu ini. Ia berpikir mungkin inilah saatnya untuk memberikan kesempatan pada Rosyati. Memberikannya kebebasan di rumahnya, agar ia merasa senang.
Malamnya, saat semua keluarga berkumpul, asyik nonton sinetron kesukaan Ibunya, kecuali Rosyati ia tak suka menonton sinetron. Yuli mengutarakan semua keinginan Rosyati
“Agar ia merdeka, dan terbebas dari rasa mindernya selama ini. Kasihan kan, biarkanlah dia sekali ini saja mengecap kebebasan di rumah.” Katanya kepada Yani dan Ayah, Ibunya.
Ayah dan Ibunya tersenyum mengangguk setuju. Malah Ibunya menyuruh semua pembantunya agar melayani Rosyati dengan baik nantinya. Hanya Yani yang cemberut tanda semua keluarganya setuju denganYuli.
Kemudian pada hari yang ditentukan, Yuli memanggil semua anak-anak yang sering bermain di depan rumah. Ia menyerahkan semuanya pada Rosyati. Ia pun dan keluarganya sengaja meninggalkan Rumah.
“Nah, Ros sekarang kamu bebas, terserah mau ngapain, lakukan sesukamu, saya mau pergi dulu sebentar.”
“Oke Yul, Ros akan memainkan peran cinderela dengan baik, dan kelak saya akan menjadi artis yang punya banyak penggemar.” Kata Rosyati sambil nyengir dengan ceria.
Lima jam berlalu, tepatnya kini sudah pukul 5 sore hari. Diam-diam Yuli mengintip dari pintu kamarnya. Tampak dua orang anak kecil dengan baju kebesaran tertidur di lantai. Satu lagi di kasur. Yang ini agaknya Rosyati. Yuli jadi penasaran. Pelan-pelan ia buka pintu kamarnya, ia hampir saja terpekik karena kaget. Kamarnya sudah jadi demikian berantakan. Sementara Rosyati dan teman-temannya terus tertidur pulas.
Yuli berteriak dalam hati. Menyesal ia dibuatnya. Tetapi kemudian ia menyabar-nyabarkan dirinya. Ia sadar akan resiko dari keputusan yang ia ambil. Kini ia harus berani menanggungnya. Tanpa membangunkan Rosyati, dengan hati-hati ia membersihkan kamarnya. Hatinya menangis-nangis, tidak biasanya Yuli mengerjakan yang seperti ini. Apalagi ketika ia melihat boneka beruang kesayangannya, penuh kotoran mentega kue yang berserakan di meja belajarnya.
Yuli tidak bisa berkata apa-apa, ia terus membersihkan kamarnya. Anehnya, Rosyati dan teman-temannya tak bangun juga. Akhirnya kemarahan Yuli bangkit. Dengan sengaja ia menendang kasur tempat Rosyati tidur. Ajaib, Rosyati tak bangun juga. Yuli makin kesal, kesabarannya habis ketika ia jatuh terpeleset karena lantai yang licin.
“Aduh..!” teriak Yuli kesakitan. Anehnya ini juga tidak membuat Rosyati bangun. Dengan mata terpejam menahan rasa sakit Yuli mendekati Rosyati dan berteriak.
“Rosssssssss!. Bangun!!!”
Rosyati dan kawan-kawannya bangun bersamaan. Tetapi Rosyati bukannnya minta maaf. Ia malah senang melihat Yuli.
“Wah, dari mana saja kamu Yul?, kamu ketinggalan. Ceritanya seru banget. Kamu belum melihat ketika aku memakai gaun. Aku kelihatan cantik sekali, apalagi ketika aku berlari meninggalkan sepatuku…” Rosyati terus berceloteh tanpa henti sampai akhirnya ia capek sendiri.
“Terima kasih ya Yul, terima kasih kamu baik banget.” Kata Rosyati dengan spontan dan tulus.
Yuli yang dasarnya gampang terharu, memandang wajah kegembiraan Rosyati tak tahu mau berbuat apa. Semua kemarahan yang tadinya menggunung, kini lumer seketika.
“Iya deh Ros, sama-sama sekarang ayo bersihkan kamarku” pinta Yuli lesuh.
Malam harinya, ketika Yani pulang keadaan kamar Yuli sudah seperti sedia kala. Yuli tidak bisa membayangkan bila Yani melihat kamarnya bertantakan. Pasti akan terjadi perang dunia ke dua antara Yani dan Rosyati. Mereka berduakan sama-sama keras kepala. Pikirnya. Walaupun makan hati, Yuli senang akhirnya semuanya telah berakhir.
Sebulan kemudian, Yuli melihat Rosyati memakai pakaian olahraga lengkap dengan sepatu Yuli yang ia pinjamkan. Dengan segan Yuli mendekatinya di tengah kerumunan teman sekelasnya yang berpakaian sama dengannya.
“Ros, ngapain kamu pake baju kayak gini?, kayak orang mau perang aja.” Kata Yuli berbisik
“Ngga kok Yul, iseng aja,” Rosyati menjawab dengan santai. “Oh iya Yul boleh ngga aku minta sesuatu sama kamu?.”
“Apa?, kamu mau jalan-jalan lagi. Ngga bosan apa?.”
“Bukan jalan-jalan Yul”
“ Terus kamu mau apa?” Tanya Yuli penasaran.
“Aku mau pinjam pekarangan rumahmu ya, disanakan luas”
“A-apa pekarangan rumah,” Yuli terkesiap. “Memangnya kamu mau ngapain Ros.”
“Aku mau mewujudkan impianku Yul”
“Impian,? Seingatku kamu kan mau jadi Sutradara dan artis terkenal kan. Ngapain mau pake pekarangan rumah segala?. Kamu mau bikin drama peperangan?.” Tanya Yuli tergesa-gesa.
“Sabar dong Yul, ini bukan tentang jadi sutradara atau artis. Kali ini lain lagi.”
“Terus apa?.” Tanya Yuli. Perasaannya tidak enak.
“Aku mau jadi seorang Paskibraka”
“Ha…dasar kamu Ros.” Yuli menghela napas. Ia bingung harus bagaimana lagi dengan Rosyati…

Rumah Tua

`Januari musim penghujan.
Malam itu begitu sepi dan gelap mencekam. Angin yang berhembus begitu dingin melewati kedua telinga mereka. Suasananya tidak seperti yang mereka harapkan.
Irman menatap nanar bangunan tua yang tinggi menjulang di hadapannya. Gerimis rintik hujan tampak jelas terpancar dari sorot kuning lampu jalanan, bangunan itu nampak lebih seram dari sebelumnya. Tanpa terasa ia bergidik.
Di sampingnya, sedang duduk Toni, teman sekelas Irman. Di sekolah ia adalah orang yang cukup ditakuti dan dikenal sebagai anak yang jahil. Demikan pula halnya dengan Irman, sahabatnya. Ia adalah bintang basket pujaan setiap perempuan di sekolahnya.
Itu adalah alasan mengapa mereka tidak boleh mundur.
“Ayo kita masuk” kata Toni dengan ketegangan yang dipaksakan.
“Tunggu Ton, kamu serius mau masuk?” Tanya Toni.
“Ya iyalah, seluruh sekolah sudah bertaruh untuk kita, apa kita berani masuk atau tidak. Apa kamu mau si Jeff yang sombong itu nertawain kita karena tidak berani masuk?”
“Iya deh kalau gitu, ayo kita masuk. Besok, kita buat sekolah gempar dengan keberanian kita. Si Jeff pasti iri melihat kita”
“Nah, gitu dong, bigini aja kok takut”
Kemudian mereka berdua menyebrangi jalan yang sepi, lalu memanjat pagar yang cukup tinggi dengan banyak tumbuhan menjalar menutupi pagar itu.


“Ayo Ton, jalan.” Kata Irman menelan ludah
Mereka berdua saling menunggu satu sama lain. Mereka sangat takut dengan apa yang mereka lakukan. Tapi ego sudah menguasai mereka, langkah kaki mereka terdorong rasa ingin disegani dan ditakuti di sekolahnya. Apalagi rasa kesal mereka pada Jeffri, ia adalah saingan berat Toni dan Irman dalam merebut perhatian teman-teman sekolahnya. Mereka tak pernah berhenti membuat sensasi di sekolah. inilah alasan kenapa Toni dan Irman nekat melakukannya.
Rumah tua itu terletak tepat di samping sekolah Toni dan Irman. Rumah kayu yang mirip gereja itu, berwarna putih, namun sudah kusam di makan usia. Konon katanya, rumah itu pernah dihuni oleh keluarga yang terkenal kaya raya, namun sayang, sang pemilik rumah sangat kikir. Keluarga itu juga tidak pernah bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya, keluarga itu tewas terbunuh oleh perampok dan membawa kabur harta mereka. Sampai sekarang, tidak ada yang berani masuk ke rumah tua itu.
“Ayo Man kita masuk” kata Toni, saat berada di depan rumah tua itu, bersiap-siap membuka pintu. Tapi tiba-tiba mereka tersentak, ketika mendengar suara langkah kaki yang makin lama makin jelas. Tangan mereka bergetar memegang senter didepan perut Irman. Namun, karena ego yang tinggi mereka tidak mau mengucap kata takut. Mereka pun berusaha mencari-cari alasan.
“Hassyin…!” Irman bersin dengan sengaja. Hampir saja Toni terserang penyakit jantung karena kaget.
“Wah…aku kurang enak badan nih Ton,” katanya “Bagaimana kalau masuknya lain kali saja” kata Irman dengan nada pelan.
“Sayang sekali Man, padahal kita sudah sejauh ini. Tapi, karena kamu kurang enak badan, ya tidak apa-apa deh, aku juga kebelit mau kencing” “Bilang aja kalau kamu juga takut” Kata Irman dalam hati.
“Kalau begitu kita pura-pura saja Ton, bilang saja sama teman-teman besok kalau kita sudah masuk, bilang saja kalau kita….”
“Sudah ngomongnya di luar saja aku sudah kebelit nih mau kencing” Potong Toni ketakutan, kemudian berjalan meninggalkan rumah tua itu, Irman menyusul dibelakangnya.
Sesekali Irman menengok kebelakang melihat rumah tua itu, perasaannya sudah sedikt legah. Tiba-tiba samar-samar ia melihat sosok hitam mirip orang yang sedang berdiri menatap mereka berdua dari jendela rumah tua itu. Merinding, ia pun segera mempercepat langkahnya. Spontan Toni mengikutinya. Memanjat pagar dan segera menjauh dari rumah tua itu.
“Nah, besok kita bilang apa sama-sama teman-teman Man.?” Tanya Toni dengan perasaan legah.
“Ya kita bilang saja kalau kita sudah masuk, terus kita bilang kalau di dalam rumah itu sangat menyeramkan, kalau perlu bilang saja bahwa di rumah itu banyak setannya”
“Setan,? Setan apa Man?.” Tanya Toni
“Ya terserah, pocong kek, kuntilanak, wewegombel yang jelas kita buat anak-anak di sekolah kagum dengan keberanian kita.”
Begitulah mereka berdua, terus menelusuri jalan pulang diiringi lantunan karangan cerita menyeramkan yang akan mereka ceriatakan besok di sekolah. Toni dan Irman tertawa meremehkan, ketika mereka membayangkan wajah Jeffri yang irih melihat mereka berdua.
“ Si Jeff pasti tidak bisa bilang apa-apa Ton. Skak match!” Kata Irman.
“Iya Man, aku jadi tidak sabar menunggu besok,” katanya “Man, makan dulu yuk, aku yang traktir” kata Toni ketika mereka berada di depan warung Pak haji Jalal, tempat makan favorit mereka.”
“Makan,? loh, bukannya kamu kebelit mau kencing Ton, kenapa sekarang mau makan?” Tanya Irman menyindir, ia teringat perkataan Toni pada saat di rumah tua tadi.
“A-anu, maksudnya sekalian numpang mau kencing,” Toni panik “sudah ayo masuk” Irman hanya senyum mengekik. Ia sadar betul akan sahabatnya yang satu ini. Toni beraninya di mulut saja tanpa bertindak sama sekali. Pikirnya, tapi tiba-tiba ia malu ketika melihat dirinya sendiri.
Besoknya di sekolah, pagi-pagi sekali Toni dan Irman sudah membuat gempar. Kelas mereka menjadi ramai dengan kerumunan orang-orang. Mereka penasaran ingin mendengar cerita dari Toni dan Irman tentang rumah tua di samping sekolah mereka itu.
“Pokoknya rumah itu menyeramkan banget, banyak sekali suara langkah kaki. Walaupun hanya bermodalkan satu senter dan keberanian kami terus menelusuri rumah tua itu sampai ke sudut-sudutnya.” Kata Toni, dengan lagak kePahlawanannya.
“Tapi tiba-tiba kami berhenti dan berlari ketakutan, ketika kami melihat pocong dan kuntilanak yang bergelantungan di atas atap” sambung Irman tak mau kalah dengan Toni.
“Wah, yang benar Man. Rumah itu ada hantunya,? Aku jadi merinding.” Tanya Feby, salah satu perempuan idola para lelaki di sekolah.
“Iya Feb, di rumah itu banyak sekali hantu yang menyeramkan. Apalagi kuntilanak, matanya merah menyala.” Kata Irman melebih-lebihkan.
“Iiii, aku jadi takut. Emangnya kalin tidak takut apa?. Melihat kuntilanak” Katanya
“Tidak apa-apa kok, lama-lama juga terbiasa”
“Wah…, kalian berdua memang berani.” Irman dan Toni hanya tesenyum legah dan bangga dengan diri mereka sendiri, seakan-akan mereka betul-betul sudah melakukannya.
“Alaaa, pasti kalian bohong,” sergah Jeffri “Mana ada hantu di jaman sekarang, pasti kalian ngarang kan” Irman dan Toni terkesiap.
“Enak saja kamu Jeff, bilang saja kalau kamu iri” Kata Toni mengejek.
“Huuuu….!” Semua orang menyoraki Jeffri.
“Pokoknya saya ngga percaya, saya mau bukti.” Seketika Jeffri merobek selembar kertas bukunya dan mengambil pulpen.
“Mau apa kamu Jeff?” Tanya Irman penasaran, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
“Sudah jangan banyak tanya, ayo ikuti aku kalau berani” tantang Jeffri. Irman dan Toni mulai cemas, dengan bimbang mereka pun mengikuti Jeffri yang berjalan ke rumah tua itu, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
“Nih liat” Jeffri menandatangani selembar kertas, kemudian ia mengambil batu dan membungkusnya dengan kertas itu.
“Mau apa kamu Jeff?” Tanya Toni panik.
Tanpa basa-basi Jeffri melempari jendela rumah tua itu.
“Tringg…brag-brag-kada-brag.” Lemparan Jeffri menembus jendela itu. Hampir saja pecahan kaca mengenai mereka.
“Woihh, apa yang kalian lakukan.” Mereka semua terkesiap, ketika mereka melihat Bapak-bapak meneriaki mereka. Wajahnya kusam, matanya besar dengan kumis dan alis yang tebal. Jeffri dan teman-temannya pun lari terbirit-birit kembali ke sekolah.
“Nah, Irman, Ton kalau kalian memang pernah masuk ke rumah itu, ambil kertas yang tadi aku lempar. Aku berani janji kalau kalian bisa mengambilnya aku akan pakai rok ke sekolah selama seminggu.” Tantang Jeffri. Irman dan Toni hanya mengangguk tanda setuju. Mereka capek lari dari kejaran Bapak-bapak tadi.
“Mampus kita Ton, kita tidak mungkin masuk ke rumah itu. Sialan tuh si Jeffri, pake nantang segala lagi” kesal Irman.
“Kita tidak punya pilihan Man, kita harus masuk ke rumah itu”
“Oke deh Ton, tapi kita masuk nanti sore saja yah”
“Sore?, ngga mungkin Man, sekolah belum sepi kalau sore, lagian kamu mua dikejar-kejar sama Bapak-bapak tadi. Udah, sebentar malam tunggu aku di rumahmu, kita akan membuat si Jeffri sialan itu kapok.
Akhirnya mereka tidak punya pilhan lain selain menyanggupi tantangan Jeffri. Bermodalkan satu buah senter dan nekat, akhirnya mereka menuju rumah tua itu.
“Ayo Ton kita masuk” seperti biasa mereka melewati jalur yang sama. Mereka melakukannya begitu cepat, nampaknya mereka lebih takut dibilang pembohong oleh teman-temannya ketimbang rasa takut dari rumah tua itu. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ketakutan segera menggerogoti pikiran mereka, ketika mereka masuk ke dalam rumah itu. Suasananya persis dengan apa yang mereka ceritakan ke teman-temannya. Sunyi dan gelap. Beberapa lukisan terpajang di dinding rumah, namun sudah tidak jelas. Debu dan sarang laba-laba menutupinya.
“Kita lewat situ” kata Toni sambil mengarahkan senter menuju ruangan berikutnya. Irman hanya terdiam ketakutan.
“Ton kita pulang saja yuk” kata Irman tiba-tiba
“Sembarangan kamu Man, kita sudah sejauh ini, tidak mungkin kita kembali. Kamu takut ya Man.” Toni mengejek
Di luar dugaannya, Irman mengakuinya.
“Ya, aku takut Ton”
Toni berdecak “Kita sudah di sini, sebentar lagi sampai. Ayo kita ambil kertasnya lalu pulang.” Toni meyakinkan Irman.
Akhirnya, Irman menurut. Mungkin dia takut nanti di ejek oleh teman-temannya.
“Andai saja kita tidak besar mulut sama teman-teman, pasti tidak begini jadinya Ton.” Irman menyesali perbuatannya.
Toni tidak mendengarnya. Ambisi untuk mempermalukan Jeffri terus terbayang di benaknya. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan.
Irman terpaksa mengikutinya. Mereka sampai di ruangan yang agaknya luas, di dalamnya terdapat banyak patung-patung berbentuk aneh. Keringat Irman mengucur deras. Ia terus menggandeng lengan Toni erat. Dengan pencahayaan seadanya, mereka terus berjalan menelusuri rumah tua itu. Sampai mereka menemukan sebuah tangga.
“Man, itu tangganya, ayo kita naik kertasnya pasti ada di atas.” Kata Toni yakin
Mereka pun menaiki tangga itu hati-hati. Tangga itu berdecik, tanda sudah rapuh.
“Sebentar lagi kita akan sampai Man, kita akan membuat si Jeffri kapok dia akan memakai rok selama seminggu. Di saat itu kita akan tertawa terbahak-bahak. Kita akan disegani di sekolah. Takkan ada orang yang berani melawan kita” Toni sangat yakin saat itu, dia mencoba menghibur Irman yang sejak tadi ketakutan.
Mereka terkesiap ketika sampai di atas. Ruangan itu kosong dan sangat luas. Dari kejauhan tampak samar-samar cahaya lilin di atas meja, begitu pula dengan kertas yang sudah di tanda tangani oleh Jeffri. Di sebelahnya terdapat sosok mirip orang yang sedang terkelungkup memakai sarung, hanya kakinya yang kelihatan.
“Siapa itu Man?” Tanya Toni penasaran.
“Sudah, aku tidak peduli apa pun dia. Ayo cepat ambil kertasnya lalu pergi dari sini.”
Toni kemudian berjalan dengan hati-hati. Tangannya gemetar, tak kuasa menahan rasa takut. Ia pun mencoba mengambil kertas Jeffri yang sudah di depan mata. Namun, tiba-tiba. `Hap!. Tangan Toni di genggam oleh sosok yang mirip orang tadi. Spontan Toni terpekik kaget. Ia memberontak membebaskan diri, namun anehnya, kedua tangannya kita tak bisa bergerak. Ia baru sadar kedua tangannya dibelenggu oleh sosok itu.
Melihat hal itu Irman ketakutan bukan kepalang. Ia berlari terpontang-panting. Napasnya memburu, peluh bercucuran, debar jantung yang kian menggila.
“Irmannnn!!!” jerit Toni, memanggil Irman
Dengan kesadaran yang tersisa Irman berhasil keluar dari rumah itu. Irman mendengar jeritan Toni memanggilnya. Irman ingin kembali, namun, kaki dan bibirnya gemetar. Ia tak sanggup untuk masuk ke dalam. Kemudian dengan terpaksa, Irman lari sekencang-kencangnya. Tubuhnya tak mampu berbalik, ia terus berlari meninggalkan Toni dan rumah tua itu, yang akhirnya lenyap oleh jarak dan gelapnya malam.



Rumah Tua

`Januari musim penghujan.
Malam itu begitu sepi dan gelap mencekam. Angin yang berhembus begitu dingin melewati kedua telinga mereka. Suasananya tidak seperti yang mereka harapkan.
Irman menatap nanar bangunan tua yang tinggi menjulang di hadapannya. Gerimis rintik hujan tampak jelas terpancar dari sorot kuning lampu jalanan, bangunan itu nampak lebih seram dari sebelumnya. Tanpa terasa ia bergidik.
Di sampingnya, sedang duduk Toni, teman sekelas Irman. Di sekolah ia adalah orang yang cukup ditakuti dan dikenal sebagai anak yang jahil. Demikan pula halnya dengan Irman, sahabatnya. Ia adalah bintang basket pujaan setiap perempuan di sekolahnya.
Itu adalah alasan mengapa mereka tidak boleh mundur.
“Ayo kita masuk” kata Toni dengan ketegangan yang dipaksakan.
“Tunggu Ton, kamu serius mau masuk?” Tanya Toni.
“Ya iyalah, seluruh sekolah sudah bertaruh untuk kita, apa kita berani masuk atau tidak. Apa kamu mau si Jeff yang sombong itu nertawain kita karena tidak berani masuk?”
“Iya deh kalau gitu, ayo kita masuk. Besok, kita buat sekolah gempar dengan keberanian kita. Si Jeff pasti iri melihat kita”
“Nah, gitu dong, bigini aja kok takut”
Kemudian mereka berdua menyebrangi jalan yang sepi, lalu memanjat pagar yang cukup tinggi dengan banyak tumbuhan menjalar menutupi pagar itu.


“Ayo Ton, jalan.” Kata Irman menelan ludah
Mereka berdua saling menunggu satu sama lain. Mereka sangat takut dengan apa yang mereka lakukan. Tapi ego sudah menguasai mereka, langkah kaki mereka terdorong rasa ingin disegani dan ditakuti di sekolahnya. Apalagi rasa kesal mereka pada Jeffri, ia adalah saingan berat Toni dan Irman dalam merebut perhatian teman-teman sekolahnya. Mereka tak pernah berhenti membuat sensasi di sekolah. inilah alasan kenapa Toni dan Irman nekat melakukannya.
Rumah tua itu terletak tepat di samping sekolah Toni dan Irman. Rumah kayu yang mirip gereja itu, berwarna putih, namun sudah kusam di makan usia. Konon katanya, rumah itu pernah dihuni oleh keluarga yang terkenal kaya raya, namun sayang, sang pemilik rumah sangat kikir. Keluarga itu juga tidak pernah bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya, keluarga itu tewas terbunuh oleh perampok dan membawa kabur harta mereka. Sampai sekarang, tidak ada yang berani masuk ke rumah tua itu.
“Ayo Man kita masuk” kata Toni, saat berada di depan rumah tua itu, bersiap-siap membuka pintu. Tapi tiba-tiba mereka tersentak, ketika mendengar suara langkah kaki yang makin lama makin jelas. Tangan mereka bergetar memegang senter didepan perut Irman. Namun, karena ego yang tinggi mereka tidak mau mengucap kata takut. Mereka pun berusaha mencari-cari alasan.
“Hassyin…!” Irman bersin dengan sengaja. Hampir saja Toni terserang penyakit jantung karena kaget.
“Wah…aku kurang enak badan nih Ton,” katanya “Bagaimana kalau masuknya lain kali saja” kata Irman dengan nada pelan.
“Sayang sekali Man, padahal kita sudah sejauh ini. Tapi, karena kamu kurang enak badan, ya tidak apa-apa deh, aku juga kebelit mau kencing” “Bilang aja kalau kamu juga takut” Kata Irman dalam hati.
“Kalau begitu kita pura-pura saja Ton, bilang saja sama teman-teman besok kalau kita sudah masuk, bilang saja kalau kita….”
“Sudah ngomongnya di luar saja aku sudah kebelit nih mau kencing” Potong Toni ketakutan, kemudian berjalan meninggalkan rumah tua itu, Irman menyusul dibelakangnya.
Sesekali Irman menengok kebelakang melihat rumah tua itu, perasaannya sudah sedikt legah. Tiba-tiba samar-samar ia melihat sosok hitam mirip orang yang sedang berdiri menatap mereka berdua dari jendela rumah tua itu. Merinding, ia pun segera mempercepat langkahnya. Spontan Toni mengikutinya. Memanjat pagar dan segera menjauh dari rumah tua itu.
“Nah, besok kita bilang apa sama-sama teman-teman Man.?” Tanya Toni dengan perasaan legah.
“Ya kita bilang saja kalau kita sudah masuk, terus kita bilang kalau di dalam rumah itu sangat menyeramkan, kalau perlu bilang saja bahwa di rumah itu banyak setannya”
“Setan,? Setan apa Man?.” Tanya Toni
“Ya terserah, pocong kek, kuntilanak, wewegombel yang jelas kita buat anak-anak di sekolah kagum dengan keberanian kita.”
Begitulah mereka berdua, terus menelusuri jalan pulang diiringi lantunan karangan cerita menyeramkan yang akan mereka ceriatakan besok di sekolah. Toni dan Irman tertawa meremehkan, ketika mereka membayangkan wajah Jeffri yang irih melihat mereka berdua.
“ Si Jeff pasti tidak bisa bilang apa-apa Ton. Skak match!” Kata Irman.
“Iya Man, aku jadi tidak sabar menunggu besok,” katanya “Man, makan dulu yuk, aku yang traktir” kata Toni ketika mereka berada di depan warung Pak haji Jalal, tempat makan favorit mereka.”
“Makan,? loh, bukannya kamu kebelit mau kencing Ton, kenapa sekarang mau makan?” Tanya Irman menyindir, ia teringat perkataan Toni pada saat di rumah tua tadi.
“A-anu, maksudnya sekalian numpang mau kencing,” Toni panik “sudah ayo masuk” Irman hanya senyum mengekik. Ia sadar betul akan sahabatnya yang satu ini. Toni beraninya di mulut saja tanpa bertindak sama sekali. Pikirnya, tapi tiba-tiba ia malu ketika melihat dirinya sendiri.
Besoknya di sekolah, pagi-pagi sekali Toni dan Irman sudah membuat gempar. Kelas mereka menjadi ramai dengan kerumunan orang-orang. Mereka penasaran ingin mendengar cerita dari Toni dan Irman tentang rumah tua di samping sekolah mereka itu.
“Pokoknya rumah itu menyeramkan banget, banyak sekali suara langkah kaki. Walaupun hanya bermodalkan satu senter dan keberanian kami terus menelusuri rumah tua itu sampai ke sudut-sudutnya.” Kata Toni, dengan lagak kePahlawanannya.
“Tapi tiba-tiba kami berhenti dan berlari ketakutan, ketika kami melihat pocong dan kuntilanak yang bergelantungan di atas atap” sambung Irman tak mau kalah dengan Toni.
“Wah, yang benar Man. Rumah itu ada hantunya,? Aku jadi merinding.” Tanya Feby, salah satu perempuan idola para lelaki di sekolah.
“Iya Feb, di rumah itu banyak sekali hantu yang menyeramkan. Apalagi kuntilanak, matanya merah menyala.” Kata Irman melebih-lebihkan.
“Iiii, aku jadi takut. Emangnya kalin tidak takut apa?. Melihat kuntilanak” Katanya
“Tidak apa-apa kok, lama-lama juga terbiasa”
“Wah…, kalian berdua memang berani.” Irman dan Toni hanya tesenyum legah dan bangga dengan diri mereka sendiri, seakan-akan mereka betul-betul sudah melakukannya.
“Alaaa, pasti kalian bohong,” sergah Jeffri “Mana ada hantu di jaman sekarang, pasti kalian ngarang kan” Irman dan Toni terkesiap.
“Enak saja kamu Jeff, bilang saja kalau kamu iri” Kata Toni mengejek.
“Huuuu….!” Semua orang menyoraki Jeffri.
“Pokoknya saya ngga percaya, saya mau bukti.” Seketika Jeffri merobek selembar kertas bukunya dan mengambil pulpen.
“Mau apa kamu Jeff?” Tanya Irman penasaran, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
“Sudah jangan banyak tanya, ayo ikuti aku kalau berani” tantang Jeffri. Irman dan Toni mulai cemas, dengan bimbang mereka pun mengikuti Jeffri yang berjalan ke rumah tua itu, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
“Nih liat” Jeffri menandatangani selembar kertas, kemudian ia mengambil batu dan membungkusnya dengan kertas itu.
“Mau apa kamu Jeff?” Tanya Toni panik.
Tanpa basa-basi Jeffri melempari jendela rumah tua itu.
“Tringg…brag-brag-kada-brag.” Lemparan Jeffri menembus jendela itu. Hampir saja pecahan kaca mengenai mereka.
“Woihh, apa yang kalian lakukan.” Mereka semua terkesiap, ketika mereka melihat Bapak-bapak meneriaki mereka. Wajahnya kusam, matanya besar dengan kumis dan alis yang tebal. Jeffri dan teman-temannya pun lari terbirit-birit kembali ke sekolah.
“Nah, Irman, Ton kalau kalian memang pernah masuk ke rumah itu, ambil kertas yang tadi aku lempar. Aku berani janji kalau kalian bisa mengambilnya aku akan pakai rok ke sekolah selama seminggu.” Tantang Jeffri. Irman dan Toni hanya mengangguk tanda setuju. Mereka capek lari dari kejaran Bapak-bapak tadi.
“Mampus kita Ton, kita tidak mungkin masuk ke rumah itu. Sialan tuh si Jeffri, pake nantang segala lagi” kesal Irman.
“Kita tidak punya pilihan Man, kita harus masuk ke rumah itu”
“Oke deh Ton, tapi kita masuk nanti sore saja yah”
“Sore?, ngga mungkin Man, sekolah belum sepi kalau sore, lagian kamu mua dikejar-kejar sama Bapak-bapak tadi. Udah, sebentar malam tunggu aku di rumahmu, kita akan membuat si Jeffri sialan itu kapok.
Akhirnya mereka tidak punya pilhan lain selain menyanggupi tantangan Jeffri. Bermodalkan satu buah senter dan nekat, akhirnya mereka menuju rumah tua itu.
“Ayo Ton kita masuk” seperti biasa mereka melewati jalur yang sama. Mereka melakukannya begitu cepat, nampaknya mereka lebih takut dibilang pembohong oleh teman-temannya ketimbang rasa takut dari rumah tua itu. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ketakutan segera menggerogoti pikiran mereka, ketika mereka masuk ke dalam rumah itu. Suasananya persis dengan apa yang mereka ceritakan ke teman-temannya. Sunyi dan gelap. Beberapa lukisan terpajang di dinding rumah, namun sudah tidak jelas. Debu dan sarang laba-laba menutupinya.
“Kita lewat situ” kata Toni sambil mengarahkan senter menuju ruangan berikutnya. Irman hanya terdiam ketakutan.
“Ton kita pulang saja yuk” kata Irman tiba-tiba
“Sembarangan kamu Man, kita sudah sejauh ini, tidak mungkin kita kembali. Kamu takut ya Man.” Toni mengejek
Di luar dugaannya, Irman mengakuinya.
“Ya, aku takut Ton”
Toni berdecak “Kita sudah di sini, sebentar lagi sampai. Ayo kita ambil kertasnya lalu pulang.” Toni meyakinkan Irman.
Akhirnya, Irman menurut. Mungkin dia takut nanti di ejek oleh teman-temannya.
“Andai saja kita tidak besar mulut sama teman-teman, pasti tidak begini jadinya Ton.” Irman menyesali perbuatannya.
Toni tidak mendengarnya. Ambisi untuk mempermalukan Jeffri terus terbayang di benaknya. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan.
Irman terpaksa mengikutinya. Mereka sampai di ruangan yang agaknya luas, di dalamnya terdapat banyak patung-patung berbentuk aneh. Keringat Irman mengucur deras. Ia terus menggandeng lengan Toni erat. Dengan pencahayaan seadanya, mereka terus berjalan menelusuri rumah tua itu. Sampai mereka menemukan sebuah tangga.
“Man, itu tangganya, ayo kita naik kertasnya pasti ada di atas.” Kata Toni yakin
Mereka pun menaiki tangga itu hati-hati. Tangga itu berdecik, tanda sudah rapuh.
“Sebentar lagi kita akan sampai Man, kita akan membuat si Jeffri kapok dia akan memakai rok selama seminggu. Di saat itu kita akan tertawa terbahak-bahak. Kita akan disegani di sekolah. Takkan ada orang yang berani melawan kita” Toni sangat yakin saat itu, dia mencoba menghibur Irman yang sejak tadi ketakutan.
Mereka terkesiap ketika sampai di atas. Ruangan itu kosong dan sangat luas. Dari kejauhan tampak samar-samar cahaya lilin di atas meja, begitu pula dengan kertas yang sudah di tanda tangani oleh Jeffri. Di sebelahnya terdapat sosok mirip orang yang sedang terkelungkup memakai sarung, hanya kakinya yang kelihatan.
“Siapa itu Man?” Tanya Toni penasaran.
“Sudah, aku tidak peduli apa pun dia. Ayo cepat ambil kertasnya lalu pergi dari sini.”
Toni kemudian berjalan dengan hati-hati. Tangannya gemetar, tak kuasa menahan rasa takut. Ia pun mencoba mengambil kertas Jeffri yang sudah di depan mata. Namun, tiba-tiba. `Hap!. Tangan Toni di genggam oleh sosok yang mirip orang tadi. Spontan Toni terpekik kaget. Ia memberontak membebaskan diri, namun anehnya, kedua tangannya kita tak bisa bergerak. Ia baru sadar kedua tangannya dibelenggu oleh sosok itu.
Melihat hal itu Irman ketakutan bukan kepalang. Ia berlari terpontang-panting. Napasnya memburu, peluh bercucuran, debar jantung yang kian menggila.
“Irmannnn!!!” jerit Toni, memanggil Irman
Dengan kesadaran yang tersisa Irman berhasil keluar dari rumah itu. Irman mendengar jeritan Toni memanggilnya. Irman ingin kembali, namun, kaki dan bibirnya gemetar. Ia tak sanggup untuk masuk ke dalam. Kemudian dengan terpaksa, Irman lari sekencang-kencangnya. Tubuhnya tak mampu berbalik, ia terus berlari meninggalkan Toni dan rumah tua itu, yang akhirnya lenyap oleh jarak dan gelapnya malam.



the process of rain

Water in the earth is kept in many places like the ocean, the ocean, the river and the lake. But don't be wrong, the plants leaves and the land also kept water.
Each day, this water will evaporate with help of the sun. The process where water evaporates from plants is called transpiration. Afterwards the vapour will experience the process of condensation where the vapour will condense and turn into a cloud. The form of the cloud always changes according to weather conditions.
The clouds will move to different locations with the help of wind that bellows vertically or horizontally. The movement of the vertical wind results in the cloud forming big 'lumps'. After that, the wind increases the size of the cloud and each cloud will overlap. Finally the cloud will reach the atmosphere that has a lower temperature. Here the particles of water and ice is formed.
Eventually, the wind can not support the weight of the cloud and so the cloud that is full with water will experience a process called precipitation or the process where rain or hail falls to earth.

the process of rain

Water in the earth is kept in many places like the ocean, the ocean, the river and the lake. But don't be wrong, the plants leaves and the land also kept water.
Each day, this water will evaporate with help of the sun. The process where water evaporates from plants is called transpiration. Afterwards the vapour will experience the process of condensation where the vapour will condense and turn into a cloud. The form of the cloud always changes according to weather conditions.
The clouds will move to different locations with the help of wind that bellows vertically or horizontally. The movement of the vertical wind results in the cloud forming big 'lumps'. After that, the wind increases the size of the cloud and each cloud will overlap. Finally the cloud will reach the atmosphere that has a lower temperature. Here the particles of water and ice is formed.
Eventually, the wind can not support the weight of the cloud and so the cloud that is full with water will experience a process called precipitation or the process where rain or hail falls to earth.

Harga HP Terbaru
Copyright © 2013 gudang imajinasi converted by SDR
back to top